
Kapan Anak Dikatakan Mengalami Pubertas?
22 Jul 2017

Author: Dhia Priyanka
20 Mar 2026
Topik: ADHD, Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder, Gangguan Perilaku, Aktif Sehat, Parenting, Melatih Fokus
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
Banyak orang tua merasa kewalahan ketika anak terlihat sangat aktif, lari ke sana kemari, sulit diam, dan tampak tidak pernah kehabisan energi. Tidak jarang muncul kekhawatiran, “Apakah ini masih normal, atau tanda ADHD?”
Pertanyaan ini sangat wajar. Pada kenyataannya, anak usia dini memang secara alami aktif. Mereka sedang berada dalam fase eksplorasi, belajar mengenal dunia melalui gerakan, permainan, dan interaksi. Namun, pada beberapa kondisi, perilaku yang tampak “terlalu aktif” bisa menjadi bagian dari gangguan perkembangan seperti Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD).
Memahami perbedaan antara aktivitas normal dan ADHD penting agar orang tua tidak terlalu cemas, tetapi juga tidak terlambat mengenali tanda yang perlu ditangani lebih lanjut.
Mengapa Anak Bisa Sangat Aktif?
Aktivitas tinggi pada anak sebenarnya merupakan bagian dari perkembangan normal. Otak anak, terutama pada usia balita dan prasekolah, sedang berkembang pesat, termasuk area yang mengatur kontrol diri dan perhatian.
Anak belajar melalui gerakan. Mereka berlari, melompat, memanjat, dan mencoba berbagai hal sebagai bentuk eksplorasi. Selain itu, kemampuan untuk mengontrol impuls (impulse control) belum matang, sehingga wajar jika anak tampak sulit diam atau mudah terdistraksi.
Apa Itu ADHD?
ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan pola kurang perhatian (inattention), hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menetap dan tidak sesuai dengan usia perkembangan anak.
Diagnosis ADHD tidak hanya berdasarkan satu atau dua perilaku, tetapi harus memenuhi kriteria tertentu, termasuk:
ADHD bukan sekadar anak “aktif”, tetapi kondisi medis yang membutuhkan evaluasi dan penanganan profesional.
Perbedaan Anak Aktif Normal vs ADHD
1. Durasi dan Konsistensi Perilaku
Pada anak dengan perkembangan normal, perilaku aktif biasanya muncul pada situasi tertentu, seperti saat bermain atau merasa senang. Anak masih bisa tenang dalam kondisi lain, misalnya saat mendengarkan cerita.
Pada ADHD, perilaku hiperaktif cenderung terus-menerus dan konsisten, bahkan dalam situasi yang seharusnya menuntut ketenangan.
2. Kemampuan Fokus
Anak aktif normal masih mampu fokus pada aktivitas yang mereka sukai, seperti bermain puzzle atau menonton cerita.
Sebaliknya, anak dengan ADHD sering mengalami kesulitan mempertahankan perhatian, bahkan pada aktivitas yang menarik. Mereka mudah berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain tanpa menyelesaikannya.
3. Kontrol Impuls
Anak pada umumnya kadang bertindak impulsif, seperti menyela pembicaraan atau mengambil sesuatu tanpa izin. Namun, seiring waktu, mereka belajar mengontrol perilaku tersebut.
Pada ADHD, impulsivitas lebih menonjol, seperti:
4. Dampak pada Kehidupan Sehari-hari
Perilaku aktif yang normal biasanya tidak mengganggu fungsi utama anak secara signifikan.
5. Respons terhadap Arahan
Anak yang aktif normal umumnya masih dapat diarahkan dan memahami instruksi, meskipun kadang perlu diulang.
Pada ADHD, anak sering kesulitan mengikuti instruksi meskipun sudah dijelaskan dengan jelas.
Kapan Orang Tua Perlu Waspada?
Orang tua sebaiknya mulai memperhatikan lebih lanjut jika:
Jika terdapat kekhawatiran, evaluasi oleh tenaga kesehatan atau profesional tumbuh kembang anak sangat dianjurkan untuk memastikan diagnosis yang tepat.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Untuk anak yang aktif, pendekatan yang tepat sangat penting. MomDad dapat membantu dengan:
Jika anak didiagnosis ADHD, penanganan dapat melibatkan terapi perilaku, dukungan pendidikan, dan dalam beberapa kasus terapi medis sesuai rekomendasi dokter.
Anak yang aktif belum tentu mengalami ADHD. Aktivitas tinggi sering kali merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang, terutama pada usia dini. Namun, jika perilaku tersebut menetap, terjadi di berbagai situasi, dan mengganggu kehidupan sehari-hari, penting untuk melakukan evaluasi lebih lanjut.
Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dapat membedakan mana yang masih dalam batas normal dan mana yang memerlukan perhatian khusus. Pendekatan yang suportif dan penuh pemahaman akan membantu anak berkembang secara optimal, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.
Referensi: