Meta Pixel

1 Oktober 2026

Nafsu Makan Turun setelah Influenza, Perlukah Suplemen?

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: kontak erat influenza, pemulihan influenza, lama sembuh influenza A, cara merawat anak influenza

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.

Nafsu makan anak dapat menurun selama dan setelah influenza karena demam, lelah, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, mual, atau perubahan rutinitas. Sebagian besar anak sehat tidak otomatis membutuhkan suplemen tambahan. Utamakan cairan, ASI bila masih menyusu, makanan bergizi dalam porsi kecil tetapi sering, serta pantau berat badan dan tanda dehidrasi. Suplemen sebaiknya diberikan berdasarkan kebutuhan yang dinilai dokter.

Nafsu makan turun setelah influenza umumnya bersifat sementara. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut gejala influenza tanpa komplikasi pada kebanyakan orang membaik dalam 3–7 hari, meskipun batuk dan rasa lelah dapat bertahan lebih dari dua minggu..


Mengapa Nafsu Makan Menurun setelah Influenza?

1. Demam dan respons peradangan

Saat tubuh melawan infeksi, demam, nyeri otot, sakit kepala, dan lelah dapat mengurangi rasa lapar. Anak sering lebih memilih istirahat daripada makan.

2. Hidung tersumbat dan sakit tenggorokan

Hidung tersumbat dapat mengurangi kemampuan mencium aroma makanan. Menelan juga terasa tidak nyaman bila tenggorokan sakit atau batuk sering muncul.

3. Mual, muntah, atau diare

CDC menjelaskan bahwa anak kecil dengan influenza dapat mengalami mual, muntah, atau diare bersama gejala pernapasan. Kondisi ini dapat menurunkan asupan makanan dan cairan.

4. Energi belum pulih sepenuhnya

Walau demam sudah reda, anak mungkin masih lelah. Aktivitas dan jadwal makan biasanya kembali normal secara bertahap.

5. Tekanan saat makan

Memaksa anak menghabiskan makanan dapat membuat waktu makan terasa menegangkan. IDAI mengingatkan bahwa masalah sulit makan tidak selalu selesai dengan vitamin atau “penambah nafsu makan”; penyebab dan pola pemberian makan perlu dievaluasi.


Apakah Anak Perlu Suplemen Tambahan?

Tidak selalu. American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan sebagian besar anak sehat memperoleh zat gizi yang dibutuhkan dari pola makan seimbang dan beragam. Multivitamin atau mineral biasanya tidak diperlukan bila anak kembali makan cukup setelah pulih.

Suplemen bukan obat influenza dan tidak menggantikan makanan, cairan, istirahat, atau obat antivirus yang diresepkan dokter. Produk yang mengklaim “meningkatkan imun” juga tidak boleh dianggap dapat mempercepat penyembuhan tanpa bukti khusus untuk produk, dosis, usia, dan kondisi anak.

Suplemen dapat dipertimbangkan bila anak memiliki defisiensi yang terdiagnosis, diet sangat terbatas, gangguan penyerapan, penyakit kronis tertentu, kebutuhan khusus sesuai usia, atau asupan yang tidak mencukupi dalam waktu lama. Keputusan sebaiknya mempertimbangkan pemeriksaan, pola makan, obat lain, dan risiko kelebihan dosis.


Kapan Cukup dari Makanan dan Kapan Perlu Evaluasi?

Kondisi

Cukup fokus pada makanan/cairan

Perlu evaluasi dokter

Durasi

Membaik seiring gejala reda

Tetap buruk setelah pemulihan

Hidrasi

Minum dan urine normal

Jarang urine, mulut kering, tanpa air mata

Pola makan

Mulai menerima porsi kecil

Menolak hampir semua asupan

Berat badan

Stabil atau kembali naik

Terus turun/kurva melandai

Risiko gizi

Diet beragam, anak sehat

Diet restriktif, penyakit kronis, malabsorpsi

Suplemen

Tidak otomatis diperlukan

Bila defisiensi/kebutuhan khusus teridentifikasi


Bagaimana dengan Vitamin C, Zinc, dan Multivitamin?

1. Vitamin C

Vitamin C penting bagi fungsi imun, tetapi dapat diperoleh dari buah dan sayur. NIH Office of Dietary Supplements menyebut konsumsi vitamin C setelah gejala common cold muncul tidak menunjukkan manfaat yang konsisten. Data common cold juga tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti bahwa vitamin C mengobati influenza. Dosis berlebihan dapat menyebabkan mual, diare, dan kram perut.

2. Zinc

Zinc merupakan zat gizi penting, tetapi pemberian zinc rutin untuk mengobati influenza pada anak tidak menjadi rekomendasi umum. Zinc memiliki indikasi khusus pada kondisi tertentu, misalnya penanganan diare sesuai pedoman dan usia, bukan otomatis untuk semua anak yang kehilangan nafsu makan.

3. Multivitamin

Multivitamin tidak otomatis mengembalikan nafsu makan. Produk dapat memiliki kandungan berbeda dan sebagian zat gizi, terutama vitamin A, D, zat besi, atau zinc—dapat berbahaya bila dikonsumsi berlebihan.

4. Probiotik dan herbal

Manfaat probiotik bergantung pada strain, dosis, dan kondisi. Pada anak dengan gangguan imun, beberapa probiotik bahkan dapat berisiko. Produk herbal juga dapat berinteraksi dengan obat atau mengandung bahan yang tidak sesuai untuk anak. Diskusikan dengan dokter sebelum digunakan.


Cara Mengembalikan Nafsu Makan Anak

1. Utamakan cairan

Tawarkan minum lebih sering dalam jumlah kecil. Teruskan ASI bila anak masih menyusu. Pantau buang air kecil, mulut, air mata, dan aktivitas sebagai petunjuk hidrasi.

2. Berikan porsi kecil tetapi sering

UNICEF dan WHO menganjurkan makanan dalam jumlah kecil dan lebih sering selama sakit. Porsi kecil terasa lebih ringan daripada satu piring penuh.

3. Pilih tekstur yang nyaman

Bila tenggorokan sakit, pilih makanan lembut dan mudah ditelan. Bersihkan hidung sebelum makan agar anak lebih mudah bernapas dan mencium aroma makanan.

4. Padatkan energi dan protein

Sesuaikan usia dan tekstur dengan menambahkan telur matang, ikan, ayam, daging, tahu, tempe, yogurt atau produk susu, serta sumber lemak secukupnya ke makanan utama.

5. Sajikan makanan yang familiar

Pilih makanan bergizi yang biasanya disukai anak. Hindari terlalu banyak minuman manis atau camilan rendah zat gizi karena dapat membuat anak kenyang sebelum makan.

6. Jangan memaksa

Dampingi dengan tenang, kenali tanda lapar dan kenyang, batasi distraksi layar, dan hentikan sesi makan bila anak terus menolak. Tawarkan kembali pada jadwal berikutnya.

7. Tambahkan makan selama pemulihan

Setelah nafsu makan kembali, tawarkan satu kali makan atau selingan bergizi tambahan selama masa pemulihan untuk membantu mengganti energi dan berat yang mungkin hilang.


Tanda Bahaya yang Perlu Diperiksa

CDC memasukkan dehidrasi sebagai tanda bahaya komplikasi influenza pada anak. Segera cari pertolongan bila anak:

- Tidak buang air kecil sekitar 8 jam, mulut kering, atau tidak keluar air mata saat menangis.

- Bernapas cepat, sesak, mengalami tarikan dinding dada, atau bibir kebiruan.

- Sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak berinteraksi seperti biasa, atau kejang.

- Tidak mampu minum, muntah berulang, atau terus menolak semua asupan.

- Demam atau batuk sempat membaik lalu kembali memburuk.

- Berat badan terus turun, anak tampak semakin kurus, atau nafsu makan tidak membaik setelah gejala lain mereda.

Bayi, anak berusia di bawah 5 tahun—terutama di bawah 2 tahun—serta anak dengan asma, penyakit jantung, diabetes, gangguan saraf, atau imunitas lemah memiliki risiko komplikasi influenza lebih tinggi dan perlu dinilai lebih awal.


Kapan Dokter Mungkin Merekomendasikan Suplemen?

Dokter dapat mempertimbangkan suplemen bila riwayat makan dan pemeriksaan mengarah pada kekurangan zat gizi, misalnya anemia defisiensi besi atau defisiensi vitamin tertentu. Suplemen juga mungkin diperlukan pada bayi sesuai rekomendasi usia, seperti vitamin D pada kondisi tertentu, atau pada anak dengan diet restriktif, gangguan penyerapan, penyakit kronis, atau pertumbuhan yang terganggu.

Jenis, dosis, bentuk, dan lamanya pemberian harus disesuaikan. Jangan memakai dosis orang dewasa, menggabungkan beberapa produk dengan kandungan serupa, atau memberikan “penambah nafsu makan” tanpa mengetahui bahan aktifnya.


Cegah Influenza Datang Lagi dengan Vaksinasi

LP-B.png

Setelah si Kecil pulih, MomDad juga bisa membantu memberikan perlindungan terhadap influenza melalui vaksinasi sesuai rekomendasi. Vaksin influenza membantu menurunkan risiko terkena influenza serta komplikasi yang dapat menyertainya.

Kabar baiknya, MomDad bisa mendapatkan Vaksin Influenza Influvac Tetra seharga Rp350.000, dari harga normal Rp375.000. Jadi, MomDad bisa hemat Rp25.000 untuk booking vaksin influenza melalui PrimaKu. Yuk, lengkapi perlindungan si Kecil dan lakukan booking vaksin lebih praktis melalui PrimaKu. Klik banner di atas untuk checkout vaksin dan atur jadwal.


FAQ tentang Nafsu Makan setelah Influenza

Q: Berapa lama nafsu makan kembali normal?

A: Waktunya berbeda pada setiap anak. Biasanya membaik seiring demam, nyeri, hidung tersumbat, dan lelah mereda. Periksakan bila anak terus sulit makan/minum atau beratnya turun.


Q: Apakah vitamin C mempercepat sembuh dari influenza?

A: Belum ada bukti kuat bahwa vitamin C yang mulai diberikan setelah sakit dapat menyembuhkan influenza. Vitamin C sebaiknya diperoleh dari makanan, kecuali dokter menilai suplemen diperlukan.


Q: Apakah anak boleh minum susu saat influenza?

A: Umumnya boleh bila anak dapat menerimanya dan tidak memiliki kontraindikasi. Susu tidak terbukti memperbanyak lendir, tetapi tekstur di mulut dapat terasa lebih kental pada sebagian anak.


Q: Apakah madu dapat meningkatkan nafsu makan?

A: Madu bukan penambah nafsu makan dan tidak boleh diberikan kepada bayi di bawah 12 bulan karena risiko botulisme. Pada anak lebih besar, madu tetap tidak menggantikan makanan bergizi.


Q: Kapan perlu pemeriksaan darah?

A: Tidak semua penurunan nafsu makan memerlukan tes. Dokter dapat mempertimbangkannya bila ada pucat, lelah menetap, pertumbuhan terganggu, diet sangat terbatas, atau dugaan defisiensi tertentu.


Nafsu makan turun setelah influenza biasanya membaik bertahap dan tidak otomatis membutuhkan suplemen. Prioritaskan cairan, makanan bergizi dalam porsi kecil tetapi sering, tekstur yang nyaman, dan pola makan tanpa paksaan.

Suplemen memiliki manfaat bila memang ada kebutuhan khusus, tetapi tidak menggantikan makanan atau pengobatan influenza. Konsultasikan bila anak berisiko defisiensi, berat terus turun, asupan tidak pulih, atau muncul tanda dehidrasi dan gangguan napas.


Referensi:

- Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Signs and Symptoms of Influenza. CDC; 2026.

- Centers for Disease Control and Prevention. Signs and Symptoms of Flu. CDC; 2024.

- American Academy of Pediatrics. Nutritional Supplements, Vitamins & Boosting Your Child’s Immunity. HealthyChildren.org; 2026.

- National Institutes of Health Office of Dietary Supplements. Dietary Supplements for Immune Function and Infectious Diseases. NIH; 2025.

- National Institutes of Health Office of Dietary Supplements. Vitamin C Fact Sheet for Consumers. NIH; 2025.

- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Sulit Makan pada Bayi dan Anak. IDAI; 2016.

- World Health Organization. Infant and Young Child Feeding. WHO; 2026.

- UNICEF. Key Practice: Infant Feeding during Sickness. UNICEF; 2025.