7 Oktober 2026
Vaksin DTP dan PCV Bersamaan, Bolehkah?
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Vaksin PCV, Vaksin Anak, Efek Samping Vaksin, Keamanan Vaksin, Perbedaan Vaksin, Vaksin DTP
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
DTP dan PCV umumnya aman diberikan pada hari yang sama. Kedua vaksin tidak dicampur dalam satu spuit, melainkan disuntikkan secara terpisah di lokasi berbeda. Kedua vaksin tidak dicampur dalam satu spuit, melainkan disuntikkan secara terpisah di lokasi berbeda, selama anak memenuhi syarat imunisasi dan penyuntikan dilakukan oleh tenaga kesehatan. WHO dan CDC menjelaskan bahwa beberapa vaksin dapat diberikan serentak dengan spuit serta lokasi suntikan yang berbeda. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga menerapkan imunisasi ganda agar anak memperoleh perlindungan tepat waktu.
Vaksin DTP dan PCV Bersamaan, Apakah Aman?
Ya. Pemberian DTP atau vaksin kombinasi yang mengandung komponen difteri, tetanus, dan pertusis, bersamaan dengan pneumococcal conjugate vaccine (PCV) merupakan praktik imunisasi ganda yang diterima secara luas.
Kementerian Kesehatan RI menyatakan imunisasi lebih dari satu jenis vaksin dalam satu kunjungan aman dan membantu anak segera terlindungi dari beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. WHO juga menyebut jadwal suntikan ganda didukung data keamanan dan efektivitas sebelum maupun setelah vaksin digunakan secara luas.
“Bersamaan” bukan berarti kedua produk dicampur. CDC menegaskan setiap vaksin harus disiapkan dalam spuit terpisah dan diberikan pada tempat suntikan berbeda. Bila dua suntikan harus diberikan pada anggota gerak yang sama, titik suntikan perlu dipisahkan sesuai prosedur tenaga kesehatan.
Apa Perbedaan Vaksin DTP dan PCV?
Vaksin DTP
Vaksin DTP melindungi anak dari tiga penyakit serius: difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan. Dalam program imunisasi Indonesia, komponen DTP sering diberikan sebagai vaksin kombinasi DPT-HB-Hib yang sekaligus melindungi dari hepatitis B dan infeksi Haemophilus influenzae tipe b.
Vaksin PCV
PCV melindungi dari penyakit akibat bakteri pneumokokus, antara lain pneumonia, meningitis, dan infeksi berat dalam darah. Vaksin ini tidak mencegah seluruh penyebab pneumonia, tetapi memberi perlindungan terhadap serotipe pneumokokus yang tercakup dalam vaksin.
Perbandingan DTP dan PCV
Mengapa DTP dan PCV Boleh Diberikan Bersamaan?
1. Keamanan dan respons imun telah diteliti
Jadwal imunisasi dirancang berdasarkan bukti keamanan, efektivitas, dan kemampuan tubuh membentuk respons imun. Memberikan beberapa antigen pada satu kunjungan tidak berarti “terlalu berat” bagi sistem imun anak. Setiap hari, tubuh anak menghadapi jauh lebih banyak antigen dari lingkungan dibandingkan jumlah yang terdapat dalam vaksin.
2. Perlindungan diperoleh tepat waktu
Menunda salah satu vaksin tanpa alasan medis membuat anak lebih lama rentan terhadap penyakit. Pertusis dan infeksi pneumokokus dapat menyebabkan penyakit berat pada bayi, sehingga jadwal usia dan interval vaksin perlu diikuti.
3. Kunjungan menjadi lebih efisien
Imunisasi ganda mengurangi kebutuhan datang berulang kali ke fasilitas kesehatan. Kemenkes menilai pendekatan ini mempercepat perlindungan, membuat pelayanan lebih efisien, dan membantu mengejar vaksin yang tertinggal.
Bagaimana Cara Pemberian DTP dan PCV Bersamaan?
Tenaga kesehatan akan melakukan skrining, memeriksa usia serta riwayat dosis, kemudian memastikan tidak ada kontraindikasi. Prinsip pemberiannya meliputi:
- setiap vaksin menggunakan spuit tersendiri;
- vaksin tidak dicampur sendiri dalam satu spuit;
- suntikan diberikan di lokasi berbeda, misalnya paha kanan dan kiri pada bayi;
- bila perlu menggunakan anggota gerak yang sama, lokasi suntikan dipisahkan setidaknya sekitar 2,5 cm sesuai panduan;
- nama vaksin, lokasi suntikan, tanggal, merek, dan nomor batch dicatat; serta
- anak dipantau sesuai prosedur fasilitas kesehatan setelah imunisasi.
Penggunaan vaksin kombinasi resmi berbeda dari mencampur dua vaksin. Vaksin kombinasi telah diformulasikan dan diuji oleh produsen, sedangkan vaksin DTP dan PCV yang terpisah tidak boleh dicampur dalam satu spuit.
Efek Samping setelah Vaksin DTP dan PCV
Setelah imunisasi, anak dapat mengalami reaksi ringan yang bersifat sementara. MomDad mungkin melihat:
- nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan;
- demam ringan;
- anak lebih rewel atau mengantuk;
- nafsu makan sementara menurun; atau
- rasa tidak nyaman saat tungkai yang disuntik digerakkan.
Karena kedua vaksin diberikan pada hari yang sama, penyebab pasti keluhan ringan tidak selalu dapat dibedakan. Kondisi tersebut biasanya membaik dalam satu hingga beberapa hari. Berikan ASI atau cairan yang cukup, biarkan anak beristirahat, dan ikuti petunjuk dokter mengenai obat penurun demam. Jangan memberikan obat sebagai pencegahan tanpa arahan tenaga kesehatan.
Apakah Pemberian Bersamaan Membuat Demam Lebih Tinggi?
DTP dan PCV masing-masing dapat menimbulkan demam sebagai reaksi tubuh membentuk kekebalan. Pemberian pada hari yang sama dapat membuat MomDad lebih sulit mengetahui vaksin mana yang berkaitan dengan keluhan, tetapi pedoman tetap memperbolehkan pemberian bersamaan karena manfaat perlindungan tepat waktu lebih besar.
Kemenkes menyatakan imunisasi ganda terbukti aman dan tidak meningkatkan risiko KIPI pada anak apabila dilakukan dengan prosedur yang benar. Meski demikian, setiap anak dapat bereaksi berbeda. Karena itu, pemantauan setelah vaksin dan mengikuti instruksi tenaga kesehatan tetap penting.
Promo Vaksin PCV & DTaP Hanya Rp2 Juta di PrimaKu
Jika jadwal vaksinasi si Kecil memungkinkan PCV dan DTaP diberikan pada kunjungan yang sama, MomDad juga dapat melakukan booking paket vaksin melalui PrimaKu. Saat ini tersedia paket Vaksin PCV & DTaP-Polio IPV-Hib-Hep B [Combo] seharga Rp2.000.000, dari harga normal Rp2.500.000. MomDad bisa hemat Rp500.000 dengan ekstra voucher untuk periode promo hingga 31 Oktober 2026.
Paket ini menggunakan PCV (Prevenar 20) yang membantu memberikan perlindungan terhadap penyakit akibat bakteri pneumokokus, termasuk pneumonia dan penyakit pneumokokus invasif. Sementara itu, Infanrix Hexa membantu memberikan perlindungan terhadap difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, polio, dan Haemophilus influenzae tipe b (Hib).
Sebelum vaksinasi, tenaga kesehatan akan tetap memeriksa usia, kondisi kesehatan, serta riwayat imunisasi anak untuk memastikan vaksin dan jadwal pemberiannya sesuai kebutuhan. Dengan demikian, MomDad bisa membantu melengkapi perlindungan si Kecil dari berbagai penyakit sekaligus memanfaatkan harga vaksin yang lebih hemat melalui PrimaKu. Klik banner di atas untuk atur jadwal vaksin melalui WhatsApp.
FAQ tentang Vaksin DTP dan PCV Bersamaan
Q: Apakah DTP dan PCV boleh disuntikkan di paha yang sama?
A: Boleh bila diperlukan dan dilakukan oleh tenaga kesehatan, tetapi titik suntikan harus berbeda serta diberi jarak sesuai panduan. Pada bayi, paha kanan dan kiri sering dipilih agar lokasi reaksi mudah dipantau.
Q: Apakah DTP dan PCV boleh dicampur dalam satu spuit?
A: Tidak. DTP dan PCV diberikan menggunakan spuit terpisah. Hanya vaksin kombinasi yang sudah diformulasikan dan disetujui produsen yang boleh berada dalam satu sediaan.
Q: Apakah dua vaksin sekaligus membebani sistem imun bayi?
A: Tidak. Sistem imun bayi mampu merespons banyak antigen setiap hari. Vaksin yang direkomendasikan bersama telah melalui evaluasi keamanan dan efektivitas.
Q: Kalau anak demam setelah DTP dan PCV, vaksin mana penyebabnya?
A: Keduanya dapat menyebabkan demam ringan, sehingga penyebabnya belum tentu dapat dipastikan. Pantau kondisi umum anak dan ikuti arahan dokter. Cari pertolongan bila demam tinggi, menetap, atau disertai tanda bahaya.
Q: Apakah vaksin boleh dipisah jika orang tua belum siap?
A: Keputusan sebaiknya dibicarakan dengan dokter. Memisahkan vaksin dapat menambah kunjungan dan memperpanjang masa anak belum terlindungi. Bila tidak ada kontraindikasi, pemberian sesuai jadwal pada kunjungan yang sama umumnya lebih menguntungkan.
Vaksin DTP dan PCV bersamaan umumnya aman, efektif, dan bermanfaat. Keduanya diberikan menggunakan spuit serta lokasi suntikan yang berbeda, bukan dicampur menjadi satu. Dengan mengikuti jadwal, anak memperoleh perlindungan lebih cepat dari beberapa penyakit serius tanpa perlu menambah kunjungan yang sebenarnya dapat dihindari.
Bawa buku imunisasi, beri tahu dokter mengenai kondisi kesehatan serta reaksi vaksin sebelumnya, dan tanyakan hal yang masih membuat MomDad ragu. Penilaian tenaga kesehatan memastikan jenis vaksin, dosis, lokasi suntikan, dan jadwal berikutnya sesuai kebutuhan anak.
Referensi:
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Imunisasi Lebih dari Satu Jenis Vaksin Tidak Sebabkan Kematian. Kemenkes RI; 2024.
2. World Health Organization. Multiple Injections: Acceptability and Safety. WHO; 2015.
3. Centers for Disease Control and Prevention. Vaccine Administration: During Vaccination. CDC; 2025.
4. Centers for Disease Control and Prevention. Diphtheria, Tetanus, and Pertussis Vaccination: Information for Health Care Providers. CDC; 2022.
5. Centers for Disease Control and Prevention. Pneumococcal Vaccination: Information for Health Care Providers. CDC; 2021.
6. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi 7 Tahun 2024. IDAI; 2024.
7. American Academy of Pediatrics. Multiple Vaccines at One Time. HealthyChildren.org; 2026.



