17 September 2026
Vaksin Polio, Efek Samping yang Perlu Diketahui Orang Tua
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Vaksinasi, Polio Suntik, Polio, Imunisasi Polio, KIPI, KIPI setelah vaksin
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
IPV merupakan vaksin tidak aktif sehingga tidak dapat menyebabkan polio. Reaksinya umumnya berupa nyeri atau kemerahan di tempat suntikan. OPV adalah vaksin hidup yang dilemahkan; biasanya ditoleransi baik, tetapi memiliki risiko kelumpuhan terkait vaksin atau VAPP yang sangat langka. Manfaat vaksinasi jauh lebih besar daripada risiko penyakit polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen.
Efek samping vaksin polio umumnya ringan atau bahkan tidak muncul sama sekali. CDC menyatakan banyak penerima vaksin tidak mengalami efek samping, sedangkan reaksi IPV yang paling umum adalah nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan.
Mengenal Vaksin Polio Tetes dan Suntik
Vaksin Polio Tetes atau OPV
Oral polio vaccine diberikan melalui mulut dan menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan. OPV membentuk kekebalan di usus sehingga membantu memutus penularan. Vaksin ini digunakan dalam program rutin dan kampanye sesuai kebijakan kesehatan.
Vaksin Polio Suntik atau IPV
Inactivated polio vaccine mengandung virus yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan. IPV membentuk perlindungan kuat terhadap polio paralitik dan tidak memiliki risiko VAPP karena tidak mengandung virus hidup.
Efek Samping OPV dan IPV
Apa Itu KIPI?
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI adalah kejadian medis yang muncul setelah imunisasi, tetapi belum tentu disebabkan oleh vaksin. KIPI dapat merupakan reaksi vaksin, kesalahan prosedur, kecemasan, penyakit yang kebetulan muncul bersamaan, atau penyebab lain.
Catat jenis vaksin, waktu pemberian, kapan gejala mulai, suhu, obat yang diberikan, serta perubahan kondisi anak. Informasi ini membantu tenaga kesehatan melakukan penilaian.
Cara Merawat Anak Setelah Vaksin Polio
Setelah IPV
- Kompres dingin bersih pada lokasi suntikan bila nyeri.
- Gerakkan lengan atau tungkai secara wajar; tidak perlu dipijat.
- Berikan minum atau ASI lebih sering.
- Biarkan anak beristirahat.
- Obat demam hanya sesuai berat badan dan arahan tenaga kesehatan.
Setelah OPV
- Anak dapat langsung menyusu atau makan sesuai arahan petugas.
- Jaga kebersihan tangan setelah mengganti popok, terutama beberapa minggu setelah OPV.
- Buang popok dengan aman dan bersihkan permukaan yang terkena tinja.
- Jangan mengulang dosis sendiri bila anak muntah; ikuti keputusan petugas imunisasi.
Hal yang Tidak Perlu Dilakukan
- Jangan mengoleskan ramuan, minyak, atau salep pada lokasi suntikan.
- Jangan memijat keras area suntikan.
- Jangan memberikan antibiotik untuk mencegah reaksi vaksin.
- Jangan menunda dosis berikutnya hanya karena reaksi ringan tanpa berkonsultasi.
- Jangan memberikan obat demam sebelum imunisasi secara rutin kecuali diarahkan dokter.
Kapan Harus Menghubungi Dokter?
Periksakan anak bila:
- demam atau reaksi lokal tidak membaik setelah 2–3 hari;
- bengkak dan kemerahan semakin luas;
- anak terus menangis, sangat lemas, atau sulit minum;
- muntah atau diare berat;
- muncul gejala baru yang membuat MomDad khawatir;
- anak memiliki penyakit imunitas atau kontak serumah dengan imunodefisiensi.
Tanda Darurat Setelah Imunisasi
Segera ke IGD bila anak mengalami:
- sulit bernapas, suara mengi berat, atau tenggorokan terasa menyempit;
- bengkak pada wajah, bibir, atau tenggorokan;
- biduran menyeluruh, pucat, lemas mendadak, pusing, atau pingsan;
- kejang atau sulit dibangunkan;
- kelemahan mendadak pada lengan atau tungkai;
- kelumpuhan layuh yang muncul dalam beberapa hari atau minggu setelah OPV.
Alergi berat sangat jarang, tetapi dapat terjadi setelah vaksin apa pun. Karena itu, tunggu di fasilitas kesehatan selama waktu observasi yang dianjurkan.
FAQ tentang Efek Samping Vaksin Polio
Q: Apakah vaksin polio menyebabkan demam?
A: Demam ringan dapat terjadi setelah IPV atau vaksin kombinasi. OPV biasanya tidak menimbulkan keluhan bermakna. Demam tinggi atau menetap perlu dinilai karena mungkin ada penyebab lain.
Q: Apakah IPV dapat menyebabkan polio?
A: Tidak. IPV berisi virus yang telah dimatikan sehingga tidak dapat bereplikasi atau menyebabkan polio.
Q: Apakah diare setelah OPV berbahaya?
A: Diare ringan dapat kebetulan muncul setelah imunisasi. Berikan cairan dan pantau dehidrasi. Hubungi dokter bila diare berat, berdarah, anak sulit minum, atau buang air kecil berkurang.
Q: Apakah anak boleh mandi setelah vaksin polio?
A: Boleh. Mandi tidak mengurangi kerja vaksin. Jaga lokasi suntikan tetap bersih dan hindari menggosok keras.
Q: Apakah dosis berikutnya boleh diberikan setelah anak mengalami demam ringan?
A: Biasanya boleh, tetapi beritahu petugas tentang reaksi sebelumnya. Alergi berat terhadap dosis atau komponen vaksin merupakan kontraindikasi dan memerlukan evaluasi.
Q: Mengapa anak perlu OPV dan IPV?
A: IPV memberi perlindungan kuat terhadap kelumpuhan tanpa risiko virus hidup, sedangkan OPV membentuk kekebalan usus yang penting untuk mengurangi penularan. Kombinasi digunakan sesuai strategi eradikasi polio dan jadwal nasional.
Efek samping vaksin polio umumnya ringan dan cepat membaik. IPV paling sering menyebabkan nyeri atau kemerahan di lokasi suntikan, sedangkan OPV biasanya tidak menimbulkan keluhan berarti. Risiko VAPP pada OPV memang ada, tetapi sangat langka dan jauh lebih kecil dibanding dampak polio.
MomDad dapat membantu dengan memantau kondisi anak, mencatat gejala, menjaga kebersihan setelah OPV, dan mengenali tanda alergi berat atau kelemahan mendadak. Jangan menghentikan seri imunisasi tanpa berkonsultasi karena perlindungan lengkap memerlukan dosis sesuai jadwal.
Referensi:
- World Health Organization. Poliomyelitis: Vaccine Standardization and Safety. WHO; 2025.
- World Health Organization. Poliovirus Vaccines—Global Advisory Committee on Vaccine Safety. WHO; 2025.
- World Health Organization. Polio Vaccine Safety Rates Information Sheet. WHO; 2014.
- Centers for Disease Control and Prevention. Polio Vaccine Safety. CDC; 2024.
- Centers for Disease Control and Prevention. Polio Vaccination. CDC; 2024.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Imunisasi Polio 2024: Tujuan, Prosedur, dan Jadwal. Ayo Sehat Kemenkes; 2024.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Apa Itu KIPI? Kemenkes RI; 2024.



