Meta PixelGrowing Pains pada Anak: Apakah Berbahaya?<!-- --> | Articles | <!-- -->PrimaKu - Pelopor Aplikasi Tumbuh Kembang Anak di Indonesia

Growing Pains pada Anak: Apakah Berbahaya?

Author: dr. Afiah Salsabila

3 Mar 2025

Topik: Growing Pain, Pertumbuhan Anak, Pertumbuhan, Nyeri

Pendahuluan

Growing pains adalah istilah yang telah digunakan selama hampir dua abad untuk menggambarkan nyeri muskuloskeletal berulang pada anak-anak. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Duchamp pada tahun 1823 dalam bukunya Maladies de la Croissance, meskipun tidak ada bukti yang secara langsung mengaitkannya dengan pertumbuhan tulang yang cepat. [1] 


Meskipun tidak berbahaya, growing pains merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang cukup sering menyebabkan anak dibawa ke dokter. Gejala nyeri pada growing pains juga dapat menyerupai penyakit lain yang lebih serius, seperti kanker, gangguan autoimun, defisiensi vitamin D, dan fraktur. Oleh karena itu, diagnosis yang akurat sangat penting untuk mencegah keterlambatan penanganan jika nyeri tersebut ternyata disebabkan oleh kondisi-kondisi lain yang lebih membahayakan tersebut. [1,2]


Epidemiologi

Prevalensi growing pains sangat bervariasi, berkisar antara 2,6% hingga 49,9%, tergantung pada populasi dan metode diagnosis yang digunakan dalam penelitian. Studi menunjukkan bahwa kondisi ini lebih sering terjadi pada anak berusia 3 hingga 12 tahun, dengan puncak insidensi antara usia 4 hingga 8 tahun. Tidak ada perbedaan signifikan prevalensi growing pains antara jenis kelamin, meskipun beberapa penelitian menunjukkan prevalensi yang sedikit lebih tinggi pada anak laki-laki . [2]


Etiologi dan Patogenesis

Hingga saat ini, etiologi growing pains masih belum sepenuhnya dipahami. Beberapa hipotesis telah diajukan, termasuk teori fatigue muskuloskeletal yang mengaitkan kondisi ini dengan aktivitas fisik yang berlebihan, terutama pada anak-anak yang sangat aktif. [1,2] Teori lain berfokus pada defisiensi vitamin D, yang telah dikaitkan dengan nyeri muskuloskeletal akibat penurunan kepadatan mineral tulang. [2] Selain faktor biologis, faktor psikologis juga diduga berperan. Beberapa studi menunjukkan bahwa anak-anak dengan growing pains lebih cenderung mengalami kecemasan atau stres emosional yang dapat mempengaruhi ambang nyeri mereka. [3]


Faktor genetik juga diduga berperan dalam growing pains. Studi menunjukkan bahwa sekitar 47% anak dengan kondisi ini memiliki riwayat keluarga dengan keluhan serupa. [1] Selain itu, hipotesis lain mengemukakan bahwa gangguan perfusi vaskular dapat menjadi penyebab growing pains, meskipun hingga saat ini bukti mengenai teori ini masih terbatas. [2]

Karakteristik Klinis Growing Pains

Karakteristik utama growing pains yang dapat membantu dalam diagnosis meliputi nyeri yang biasanya terjadi di kedua ekstremitas bawah (bilateral), terutama pada malam hari atau saat anak sedang beristirahat, bukan saat beraktivitas. [1,3] Selain itu, berbeda dengan peradangan muskuloskeletal, growing pains tidak menyebabkan pembengkakan, kemerahan, atau keterbatasan gerak sendi. [2] Selain itu, kondisi ini juga tidak menyebabkan gangguan fungsi motorik atau perubahan gaya berjalan. [1] Kebanyakan anak dengan growing pains merasakan perbaikan dengan pijatan ringan atau penggunaan analgesik sederhana, yang membedakannya dari kondisi patologis lainnya. [2]

Diagnosis Banding

Growing pains merupakan diagnosis eksklusi, sehingga diagnosis lain yang masih dapat menjadi penyebab nyeri muskuloskeletal perlu dipertimbangkan terlebih dahulu. Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA) adalah salah satu diagnosis banding utama yang sering disalahartikan sebagai growing pains. Namun, JIA biasanya disertai dengan kekakuan pagi hari dan tanda-tanda inflamasi seperti pembengkakan sendi. Selain itu, defisiensi vitamin D juga perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding, terutama pada anak-anak dengan nyeri muskuloskeletal persisten yang disertai kelemahan otot. [2]


Kondisi yang lebih serius seperti leukemia dan osteosarkoma juga dapat menyerupai growing pains. Leukemia, misalnya, dapat menyebabkan nyeri tulang yang sering kali bersifat bilateral, tetapi biasanya disertai gejala sistemik seperti kelelahan, pucat, dan hepatosplenomegali. Selain itu, fraktur stres akibat trauma berulang pada anak yang aktif secara fisik juga harus dipikirkan, terutama jika nyeri bersifat unilateral dan berhubungan dengan aktivitas fisik tertentu. [1] 


Pemeriksaan Fisik yang Wajib Dilakukan

Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara menyeluruh untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang lebih serius. Evaluasi gaya berjalan penting dilakukan, karena gangguan gaya berjalan dapat menunjukkan adanya kondisi neurologis atau muskuloskeletal yang lebih serius. [1] Pemeriksaan rentang gerak (range of motion) sendi juga perlu diperhatikan, mengingat keterbatasan gerakan sendi dapat mengindikasikan adanya artritis atau kondisi tulang dan sendi lainnya. [2]
Selain itu, pemeriksaan neurologis harus mencakup evaluasi refleks dan tonus otot untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan neurologis. [2] Pemeriksaan kulit juga perlu dilakukan, karena perubahan seperti petekie atau memar yang tidak wajar dapat mengarah pada diagnosis leukemia. [1] Jika hasil pemeriksaan fisik normal dan karakteristik nyeri sesuai dengan growing pains, maka tidak diperlukan pemeriksaan penunjang lebih lanjut. Namun, jika ditemukan kelainan, maka pemeriksaan darah lengkap dengan laju endap darah dan C-reactive protein, serta radiografi tulang atau MRI mungkin diperlukan. [1]


Tatalaksana

Tatalaksana growing pains bersifat simptomatik dan bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan anak. Edukasi kepada orang tua sangat penting, karena banyak orang tua yang khawatir bahwa kondisi ini merupakan tanda penyakit serius. Dokter perlu menyampaikan kepada orang tua bahwa kondisi ini tidak berbahaya dan biasanya membaik seiring bertambahnya usia anak. Terapi fisik berupa pijatan ringan pada ekstremitas yang nyeri telah terbukti dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan. [1]
Jika nyeri cukup mengganggu, penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) atau parasetamol dapat diberikan, meskipun sering kali tidak diperlukan. Latihan peregangan otot, terutama pada otot hamstring dan betis, juga dapat membantu mengurangi frekuensi dan intensitas nyeri. Selain itu, evaluasi kadar vitamin D sebaiknya dilakukan, terutama pada anak-anak dengan riwayat defisiensi atau gejala yang mengarah ke osteomalasia. Jika ditemukan kadar vitamin D yang rendah, suplementasi dapat diberikan sesuai dengan dosis yang dianjurkan. [2]


Kesimpulan

Walaupun growing pains tidak membahayakan, nyeri yang ditimbulkannya cukup mengganggu hingga sering membuat anak dibawa ke dokter. Karena gejalanya dapat menyerupai kondisi lain yang lebih serius, seperti leukemia atau artritis inflamasi, pemeriksaan yang teliti diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis banding. Diagnosis growing pains sebagian besar bersifat klinis, dan tatalaksananya berfokus pada pendekatan konservatif, termasuk edukasi orang tua, terapi suportif, serta penggunaan terapi farmakologis jika diperlukan. Studi lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memahami lebih dalam mengenai patogenesis dan faktor risiko yang berkontribusi terhadap kondisi ini.


Referensi

  1. Lehman PJ, Carl RL. Growing pains: when to be concerned. Sports Health. 2017;9(2):132-8. doi:10.1177/1941738117692533.
  2. Pavone V, Vescio A, Valenti F, Sapienza M, Sessa G, Testa G. Growing pains: what do we know about etiology? A systematic review. World J Orthop. 2019;10(4):192-205. doi:10.5312/wjo.v10.i4.192.
  3. O’Keeffe M, Kamper SJ, Montgomery L, et al. Defining growing pains: a scoping review. Pediatrics. 2022;150(2):e2021052578. doi:10.1542/peds.2021-052578.