primaku
Mitra resmi kami:
idaikemenkes
Unduh PrimaKu di:
playstoreappstore

Bagaimana Cara Memperkenalkan Gender pada Anak?

Author: Marisha A

Editor: dr. Lucyana Alim Santoso Sp.A

Topik: Parenting, Parenting Lifestyle, Tips Parenting, Gender

Identitas gender berbeda dengan jenis kelamin (sex). Jenis kelamin seorang anak ditentukan ketika ia lahir, sedangkan identitas gender adalah cara seseorang merasa atau melihat peran dirinya secara fisik, sosial, dan budaya. Lalu, bagaimana cara orang tua memperkenalkan identitas gender pada anak-anak?

Identitas gender yang sehat

Identitas gender yang sehat adalah identitas gender yang konsisten dengan identitas jenis kelaminnya secara biologis. Identitas gender yang sehat membuat seseorang dapat menyakini dirinya sebagai laki-laki atau perempuan sesuai bentuk fisiknya. Dia juga dapat berperan atau bertingkah laku sebagaimana seharusnya, sebagai laki-laki atau sebagai perempuan.

Agar seorang anak dapat memiliki identitas gender yang sehat, ia perlu belajar memahami nilai-nilai, norma-norma, tuntutan, dan batasan yang berkaitan dengan jenis kelaminnya serta dilatih untuk dapat berperan dan bertingkah laku sesuai dengan jenis kelaminnya tersebut.

Tahapan perkenalan gender

full-shot-kids-playing-with-paper.jpg

1. Identitas gender (sekitar usia 2-3 tahun)

Sekitar usia 2 tahun, anak mulai sadar akan perbedaan fisik laki-laki dan perempuan. Sebagian besar anak pada usia 18-24 bulan dapat mengelompokkan hal-hal stereotipik tentang gender tertentu, misalnya sikap feminin untuk perempuan dan maskulin untuk laki-laki. Menjelang usia 3 tahun, sebagian besar anak akan dengan mudah memberi label 'laki-laki' atau 'perempuan'.

2. Stabilitas gender (sekitar usia 4-5 tahun)

Pada usia ini, anak sudah dapat memahami sifat alami dari suatu jenis kelamin. Pada usia ini, biasanya seorang anak telah memiliki kemantapan tentang identitas gendernya. Selama periode ini juga anak akan belajar perilaku atau permainan yang dianggap wajar, mana untuk anak perempuan dan mana untuk anak laki-laki.

Meskipun demikian, sebaiknya orang tua tetap mengizinkan anak untuk bereksplorasi dan bermain jenis permainan yang bersifat “cross-gender”, misalnya anak laki-laki bermain masak-memasak atau anak perempuan bermain robot atau mobil-mobilan.

Orang tua juga dapat memperluas wawasan anak tentang gender melalui membaca buku yang tidak terlalu stereotipik, misalnya buku tentang berbagai jenis pekerjaan yang tidak umum dilakukan oleh gender tertentu, misalnya atlet wanita, polisi wanita, koki laki-laki, perawat laki-laki, dan seterusnya.

Menyediakan berbagai jenis permainan yang dapat dipilih seperti mobil-mobilan, boneka, figur aksi, dan mainan masak-masakan juga membangun kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi dengan tetap merasa diterima dan didukung sepenuhnya oleh orang tua. Hal ini juga berlaku di lingkungan sosial anak. Penting untuk selalu mengevaluasi apakah anak merasa diterima tanpa mengalami perundungan.

little-boy-playing-doctor-with-teddy-bear (1).jpg

3. Konsistensi gender (sekitar usia 5-6 tahun)

Pada usia ini, sebagian besar anak sangat kaku dalam hal stereotip gender dan preferensi gender tertentu. Menjelang usia 6 tahun, anak akan mengidentifikasikan dirinya dan bermain bersama dengan anak lain yang memiliki jenis kelamin sama. Hal ini juga akan tercermin dari caranya  memilih jenis olahraga, kelompok teman, ekstrakurikuler dan lain-lain.

Selanjutnya, seiring dengan perkembangan usia anak, dia akan menjadi lebih fleksibel. Penting bagi orang tua untuk memberikan anak kebebasan dalam memilih teman, jenis olahraga, dan aktivitas lain yang ingin mereka ikuti, serta memastikan bahwa anak merasa diterima dan tidak mengalami perundungan.

Itulah proses pengenalan gender pada anak berdasarkan usia. Yuk, pantau pertumbuhan si Kecil agar pengenalannya terhadap gender berjalan dengan baik.

Ingin tahu tips dan informasi lainnya seputar parenting? Ayo, baca artikel di aplikasi PrimaKu atau kunjungi primaku.com. Selain itu, MomDad bisa juga menonton seluruh tayangan ulang webinar di aplikasi, lho. Tak ketinggalan, follow juga akun Instagram dan TikTok PrimaKu supaya enggak ketinggalan update informasi seputar kesehatan anak dan parenting lifestyle!

Sumber foto: Freepik

Artikel ini telah ditinjau oleh Prof. dr. Madarina Julia, Sp.A(K), MPH., PhD.

familyfamily
Baca artikel tumbuh kembang anak di PrimaKu!
Unduh sekarang
playstoreappstore
Rekomendasi Artikel
Lihat semua
cover
Pemberian Makan pada Bayi: Kapan, Apa, dan Bagaimana?
6 Feb 2018
cover
Terlambat Imunisasi, harus bagaimana?
28 Jul 2021
cover
Bagaimana pertambahan berat badan bayi yang baik?
3 Agu 2021
cover
Bagaimana bila berat badan tidak naik?
12 Sep 2021
cover
Donor ASI: bagaimana prosedur yang tepat?
12 Sep 2021
cover
Bagaimana bila TB tidak naik?
17 Nov 2021
cover
Bagaimana sih infeksi saluran kemih pada anak?
25 Nov 2021
cover
Bagaimanakah Pertambahan Berat Badan Bayi yang Baik? Simak P...
5 Apr 2022
cover
Si Kecil Bingung Puting, Mom Harus Bagaimana?
30 Mei 2022
cover
Bagaimana Cara Penanganan Bayi dengan Berat Badan Lahir Rend...
21 Jul 2022
cover
BB Seret Pasca MPASI, Bagaimana Cara Mengatasinya?
25 Jul 2022
cover
Melatih Stimulasi Anak sejak Dini, Bagaimana Caranya?
21 Nov 2022
cover
BB Anak Seret di Masa MPASI, Bagaimana Menanganinya?
30 Nov 2022
cover
Bagaimana Pertambahan Berat Badan Bayi yang Baik?
15 Mar 2023
cover
Bagaimana Memantau Pertumbuhan Berat Badan Anak secara Rutin...
14 Sep 2023
cover
Bagaimana Cara Mengobati TB pada Anak?
5 Okt 2023
cover
Pencegahan TB: Bagaimana Caranya?
5 Okt 2023
cover
Bagaimana Pola Tidur Bayi Newborn yang Sehat?
24 Okt 2023
cover
Apakah Scarlet Fever dan Bagaimana Mengatasinya?
13 Nov 2023
primaku
Aplikasi tumbuh kembang anak Indonesia. Didukung penuh oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Mitra resmi kami:
idaikemenkes
Unduh PrimaKu
playstoreappstore
© 2023 All rights reserved PRIMAKU, Indonesia
Cari kami di: