primaku
Mitra resmi kami:
idaikemenkes
Unduh PrimaKu di:
playstoreappstore

Perlukah Sunat pada Anak Perempuan? Ini Jawabannya Menurut Tinjauan Medis

Author: Marisha A

Editor: dr. Dini Astuti Mirasanti Sp.A

Topik: Kesehatan, Sunat

Sunat umumnya dilakukan pada anak laki-laki. Namun, pada beberapa budaya dan tradisi, sunat juga dilakukan kepada anak perempuan. Hal ini pun masih menjadi kontroversi, terutama di kalangan para orang tua. Lalu, bagaimana perspektif medis mengenai sunat untuk anak perempuan ini? Simak jawabannya, yuk!

Manfaat sunat pada bayi laki-laki

Melansir laman IDAI, sunat yang dalam bahasa medis disebut dengan sirkumsisi, merupakan tindakan membuang sebagian atau seluruh kulit penutup bagian depan kelamin. Pada anak laki-laki, sunat dilakukan dengan membuang kulit penutup depan glans penis atau prepusium.

Tujuan sunat pada anak laki-laki adalah untuk menjaga kemaluan bersih dari tumpukan lemak yang ada di lipatan prepusium (dikenal sebagai smegma), menurunkan risiko infeksi saluran kemih, infeksi pada penis, maupun risiko mengalami penyakit menular seksual pada usia dewasa.

Sunat pada anak perempuan dari tinjauan medis

Di kalangan masyarakat tertentu, ternyata sunat juga kerap dilakukan pada bayi perempuan. Dari segi tinjauan medis, sunat pada bayi perempuan sebenarnya tidak selalu direkomendasikan.

Sunat pada bayi perempuan biasanya dilakukan dengan memotong atau melukai sedikit kulit penutup (prepusium) klitoris. Secara anatomis, sebenarnya tidak semua anak perempuan memiliki prepusium yang menutupi klitoris maupun saluran kemih. Karena itu, sunat dinilai tidak perlu dilakukan pada setiap bayi perempuan.

Sunat perempuan yang dimaksud dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) 1636/2010 adalah tindakan yang hanya menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris, tanpa melukai klitoris sehingga tidak akan timbul perlukaan atau perdarahan pada organ reproduksi perempuan.

Kementerian Kesehatan melalui Direktur Bina Kesehatan Ibu menambahkan bahwa Permenkes 1636/2010 bukan bermaksud mewajibkan sunat perempuan, bukan pula untuk melegitimasi atau melegalisasi sunat perempuan. Dalam Permenkes tersebut dinyatakan bahwa sunat perempuan saat ini dikategorikan sebagai bukan tindakan kedokteran karena pelaksanaannya tidak berdasarkan indikasi medis dan belum terbukti bermanfaat bagi kesehatan.

Bahaya sunat pada anak perempuan

Apabila sunat bayi perempuan dilakukan oleh tenaga medis sesuai Permenkes 1636/2010 tersebut, maka risiko untuk timbulnya perlukaan atau perdarahan pada organ reproduksi perempuan menjadi sangat kecil hingga tidak ada. Namun, bila masyarakat menyunat bayi perempuannya di dukun, maka hal tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan berbagai komplikasi.

Namun, beberapa ahli mengungkapkan bahwa sunat pada anak perempuan tidak memberikan manfaat apapun, melainkan bisa membahayakan kesehatan karena bisa menimbulkan komplikasi, seperti rasa sakit yang hebat, perdarahan berlebihan, pembengkakan jaringan genital, demam, infeksi, syok, bahkan kematian.

Sedangkan dalam jangka panjang, perempuan juga bisa mengalami nyeri saat berkemih, masalah pada vagina seperti keputihan, gatal, hingga infeksi, masalah menstruasi, masalah seksual, hingga peningkatan risiko komplikasi persalinan.

WHO menentang semua jenis sunat pada anak perempuan dan menentang penyedia layanan kesehatan yang melakukan prosedur tersebut. Bahkan sunat pada anak perempuan dianggap sebagai pelanggaran hak asasi perempuan menurut dunia internasional.

Itulah ulasan mengenai sunat pada anak perempuan menurut pandangan medis. Meski begitu, pilihan untuk menyunat si Kecil, kembali lagi ya pada keputusan MomDad dan keluarga.

Ingin tahu tips dan informasi lainnya seputar tumbuh kembang anak? Ayo, baca artikel di aplikasi PrimaKu atau kunjungi primaku.com. Selain itu, MomDad bisa juga menonton seluruh tayangan ulang webinar di aplikasi, lho. Tak ketinggalan, follow juga akun Instagram dan TikTok PrimaKu supaya enggak ketinggalan update informasi seputar kesehatan anak dan parenting lifestyle!

Sumber foto: Freepik

Artikel ini telah ditinjau oleh Prof. dr. Madarina Julia, Sp.A(K), MPH., Ph.D.

familyfamily
Baca artikel tumbuh kembang anak di PrimaKu!
Unduh sekarang
playstoreappstore
Rekomendasi Artikel
Lihat semua
cover
Perlukah Suplemen Vitamin D?
6 Feb 2018
cover
Perlukah Tes Alergi?
28 Feb 2018
cover
Perlukah Anak Batuk di periksa Rontgen dada ?
18 Mar 2018
cover
Menjaga imunitas anak selama pandemi: perlukah suplementasi ...
3 Agu 2021
cover
Perlukah bayi dibangunkan untuk menyusu?
12 Sep 2021
cover
Lemak pada anak, perlukah selektif?
19 Nov 2021
cover
Bayi Tidur Pulas, Perlukah Dibangunkan untuk Menyusu?
18 Mar 2022
cover
Lemak pada Anak, Perlukah Selektif?
8 Apr 2022
cover
Bayi Enggak Menangis Saat Lahir, Perlukah Khawatir?
16 Nov 2022
cover
Anak Laki-Laki Suka Main Boneka, Perlukah Khawatir?
4 Feb 2023
cover
Perlukah Memberi Vitamin Gummy pada Anak?
6 Feb 2023
cover
Si Kecil Nggak Merespon Suara, Perlukah Khawatir?
29 Mar 2023
cover
BB Anak Naik, tapi TB Stuck, Perlukah Khawatir?
13 Apr 2023
cover
Mata Bayi tidak Mengikuti Benda Bergerak, Perlukah Khawatir?
30 Mei 2023
cover
BB Anak Gak Naik Berbulan-bulan, Perlukah Khawatir?
16 Jun 2023
cover
Pemberian Bumbu pada MPASI, Perlukah?
25 Jul 2023
cover
Anak Tidur Mangap, Perlukah Khawatir?
6 Okt 2023
cover
Perlukah Anak Dibiasakan Sarapan?
14 Okt 2023
cover
Nggak Tinggal di Wilayah Endemis, Masih Perlukah si Kecil Me...
21 Nov 2023
cover
Bayi Gemuk padahal ASI Eksklusif, Perlukah Orang Tua Khawati...
22 Nov 2023
cover
Buah Zakar Bayi Belum Turun Keduanya, Perlukah Khawatir?
26 Nov 2023
primaku
Aplikasi tumbuh kembang anak Indonesia. Didukung penuh oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Mitra resmi kami:
idaikemenkes
Unduh PrimaKu
playstoreappstore
© 2023 All rights reserved PRIMAKU, Indonesia
Cari kami di: