primaku
Mitra resmi kami:
kemenkesidaibkkbn
Unduh PrimaKu di:
playstoreappstore

Tertarik Terapkan Jellyfish Parenting? Ketahui Dulu Serba-Serbinya!

Author: Annasya

Editor: dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A

Topik: Jellyfish Parenting

Ada banyak jenis gaya parenting yang bisa diterapkan bagi orang tua, salah satunya jellyfish parenting. Jellyfish parenting sering juga disebut sebagai permissive parenting, di mana orang tua dengan pola asuh permisif memberikan banyak cinta dan dukungan pada anak, tanpa memberikan batasan yang tegas, maupun harapan atau ekspektasi perilaku yang sesuai usia [1]. Jika MomDad tertarik menerapkan jellyfish parenting, yuk simak serba-serbinya terlebih dahulu!

Penerapan Jellyfish Parenting

jellyfish parenting1.jpg

Orang tua yang menerapkan pola asuh jellyfish parenting sangat mencegah anak merasa kecewa, sedih, marah, dan berbagai emosi negatif lainnya. Padahal anak-anak justru memerlukan bimbingan ketika merasakan emosi negatif ini. Anak perlu belajar mengelola emosinya dan belajar bahwa tidak semua perilaku “melampiaskan” emosi diizinkan, meskipun mereka boleh merasakan marah, kesal, sedih, kecewa, dan seterusnya.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua permisif cukup pemaaf dan memiliki sikap 'anak-anak akan bersikap layaknya anak-anak’ tanpa memberikan konsekuensi logis, dan seringkali tidak konsisten ketika mereka terpaksa memberikan konsekuensi [2,5].

Pengaruh Jellyfish Parenting pada Tumbuh Kembang

jellyfish parenting_2.jpg

Saat menerapkan jellyfish parenting pada anak, ada beberapa hal yang akan memengaruhi perkembangan anak, di antaranya [6,7]:

  • Anak menjadi kurang tangguh. Anak yang diasuh dengan pola asuh permisif tidak terbiasa menghadapi kekecewaan, tidak terbiasa diberikan tanggung jawab, serta tidak biasa mengetahui batasan-batasan yang ada di masyarakat. Mereka menjadi tidak terlatih untuk mengelola emosi yang tidak mengenakkan dan meregulasinya.
  • Anak belajar bahwa kekecewaan, perasaan frustasi dan emosi yang “tidak enak” harus selalu dihindari, alih-alih dihadapi.
  • Anak tidak terbiasa mengetahui batasan dan cenderung bersikap bebas semau sendiri. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh permisif tidak terbiasa mengenal batasan-batasan yang berlaku di masyarakat, dan kurang memiliki rasa tanggung jawab akan konsekuensi tindakan mereka.
  • Anak tidak terlatih mengembangkan disiplin diri.
  • Riset menunjukkan bahwa anak yang diasuh dengan pola asuh permisif berisiko memiliki perilaku agresif seiring waktu, meningkatnya penggunaan alkohol saat remaja, peningkatan penggunaan screen time pada anak, dan derajat aktivitas anak yang lebih rendah.
  • Tantangan Jellyfish Parenting

Orang tua yang menjalankan jellyfish parenting mungkin mengalami kesulitan dalam menentukan batasan perilaku anak, sedangkan dalam waktu bersamaan perlu mendengar, berempati dengan perasaan serta keinginan anak. Namun, orang tua perlu menjadi pemberi batasan yang jelas, dan konsisten untuk menghindari kebingungan anak di kemudian hari.

Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh permisif cenderung menjadi kurang tangguh karena tidak terbiasa menghadapi kekecewaan, tidak terbiasa diberikan tanggung jawab, serta tidak biasa mengetahui batasan-batasan yang ada di masyarakat. Mereka menjadi tidak terlatih untuk mengelola emosi yang tidak mengenakan dan meregulasinya. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang diasuh dengan pola asuh permisif berisiko memiliki perilaku agresif seiring waktu, meningkatnya penggunaan alkohol saat remaja, peningkatan penggunaan screen time pada anak, dan derajat aktivitas anak yang lebih rendah.

Komunikasi yang Efektif dalam Jellyfish Parenting

jellyfish parenting_3.jpg

Tipe parenting ini mungkin cocok untuk keluarga yang fleksibel, dengan jadwal yang minimal setiap harinya, serta dengan perangai anak yang tenang dan patuh. Menciptakan batasan serta mendukung anak dalam mempelajari norma-norma di keluarga dan masyarakat, baik dari segi konsistensi dan dukungan berupa sikap berempati terhadap keinginan dan perasaan mereka dengan komunikasi yang baik akan lebih bermanfaat pada anak-anak yang “strong willed”.

Tipe parenting ini memiliki keunggulan dalam hal komunikasi dan empati positif yang diberikan orang tua kepada anak sehingga mendorong anak untuk memiliki keterikatan positif dan koneksi. Hubungan orangtua-anak dalam jenis parenting ini lebih seperti teman [8].

Itulah penjelasan mengenai jellyfish parenting. MomDad bebas untuk menerapkan metode parenting apa yang paling cocok dan disesuaikan dengan anak.

Referensi:

  • https://generationhealth.ca/tiger-or-jellyfish-parenting/#
  • Hosokawa R, Katsura T. Role of Parenting Style in Children's Behavioral Problems through the Transition from Preschool to Elementary School According to Gender in Japan. Int J Environ Res Public Health. 2018 Dec 21;16(1):21.
  • Delvecchio E, Germani A, Raspa V, Lis A, Mazzeschi C. Parenting Styles and Child's Well-Being: The Mediating Role of the Perceived Parental Stress. Eur J Psychol. 2020 Aug 31;16(3):514-531.
  • Talib, Johari & Mohamad, Zulkifli & Mamat, Maharam. (2015). Effects of Parenting Style on Children Development.
  • Krisdiantini, A., Setyoboedi, B., & Krisnana, I. (2021). THE RELATIONSHIP BETWEEN PARENTING STYLE AND CHILDREN’S DEVELOPMENT AGED PRE-SCHOOL. Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal, 4(4), 386–394.
  • Permissive parenting: An evidence-based guide
  • Alison L. Barton, Jameson Kenneth Hirsch. Permissive Parenting and Mental Health in College Students: Mediating Effects of Academic Entitlement. Journal of American College Health. June 2015.
  • What Is Jellyfish Parenting?
familyfamily
Baca artikel tumbuh kembang anak di PrimaKu!
Unduh sekarang
playstoreappstore
Rekomendasi Artikel
Lihat semua
cover
Musim Batpil pada Anak, Tertarik Coba Salt Therapy?
5 Mar 2024
primaku
Aplikasi tumbuh kembang anak Indonesia. Didukung penuh oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Mitra resmi kami:
kemenkesidaibkkbn
Unduh PrimaKu
playstoreappstore
© 2023 All rights reserved PRIMAKU, Indonesia
Cari kami di: