primaku
Mitra resmi kami:
kemenkesidaibkkbn
Unduh PrimaKu di:
playstoreappstore

KIPI, apakah berbahaya?

Author:

Topik: KIPI, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi

IDAI tetap merekomendasikan imunisasi dilengkapi sesuai jadwal meskipun pandemi masih berlangsung. Namun, ada orangtua yang khawatir tentang kemungkinan terjadinya KIPI, serta apa pertolongan pertama yang dapat dilakukan di rumah apabila terjadi KIPI merupakan hal penting yang harus diketahui oleh Sahabat PrimaKu.

KIPI adalah setiap kejadian medis yang tidak diinginkan, terjadi setelah pemberian imunisasi, dan belum tentu memiliki hubungan kausalitas (hubungan sebab-akibat) dengan vaksin. Untuk mengetahui hubungan antara pemberian imunisasi dengan KIPI diperlukan pelaporan dan pencatatan semua reaksi yang tidak diinginkan yang timbul setelah pemberian imunisasi.

Menurut badan kesehatan dunia (WHO) ada 5 jenis KIPI:

  1. Reaksi yang terkait produk vaksin: KIPI yang diakibatkan atau dicetuskan oleh satu atau lebih komponen yang terkandung di dalam produk vaksin.
  2. Reaksi yang terkait cacat mutu vaksin: KIPI yang disebabkan atau dicetuskan oleh satu atau lebih cacat mutu produk vaksin, termasuk alat pemberian vaksin yang disediakan oleh produsen
  3. Reaksi terkait kekeliruan prosedur imunisasi: KIPI yang disebabkan oleh cara penanganan vaksin yang tidak memadai, penulisan resep atau prosedur pemberian vaksin yang sebetulnya dapat dihindari.
  4. Reaksi kecemasan terkait imunisasi: KIPI ini terjadi akibat kecemasan pada waktu pemberian imunisasi.
  5. Kejadian koinsidens: KIPI ini disebabkan oleh hal-hal di luar produk vaksin, kekeliruan imunisasi atau kecemasan akibat imunisasi. Contoh: demam yang timbul bersamaan dengan pemberian imunisasi, padahal sebenarnya disebabkan oleh penyakit lain. Misalnya, pada saat dibawa ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan imunisasi, bayi tertular selesma dari pengunjung lain yang juga datang ke tempat pelayanan kesehatan tersebut. Kejadian koinsiden mencerminkan keadaan yang pada saat tersebut terjadi di masyarakat.

Secara umum reaksi vaksin dapat dibedakan menjadi reaksi ringan dan reaksi berat. Mayoritas reaksi adalah reaksi ringan, seperti demam yang tidak terlalu tinggi, pegal-pegal, gatal, kemerahan, atau pembengkakan ringan pada area penyuntikan (Tabel 1). Kondisi ini bersifat self-limiting atau akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa hari, terkadang tidak memerlukan tata laksana khusus.

Tabel 1

 

Pada sebagian kecil kasus, KIPI dapat berakibat serius., KIPI disebut serius apabila :

  • Berakibat kematian.
  • Mengancam jiwa.
  • Memerlukan perawatan di rumah sakit atau perpanjangan masa perawatan di rumah sakit.
  • Menyebabkan kecacatan/inkapasitas menetap atau bermakna.
  • Menyebabkan kelainan kongenital/cacat lahir (vaksin yang diberikan kepada ibu hamil) atau[1] ,
  • Memerlukan tindakan intervensi untuk mencegah hendaya (impairment) / kerusakan menetap.
  •     

Beberapa kasus KIPI serius/ berat yang tercatat pernah terjadi untuk beberapa jenis vaksin dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2

Salah satu KIPI ringan yang paling sering terjadi adalah demam. Demam merupakan upaya tubuh untuk melawan penyakit. Demam adalah suhu tubuhdidefinisikan sebagai suhu > 38oC pada pengukuran di ketiak, rektal, atau mulutoral. Pengukuran di telinga maupun di dahi perlu dikonfirmasi dengan salah satu pengukuran di atas. Jika si kecil mengalami demam setelah diimunisasi, ibu dapat membantu menurunkan demam dengan memberikan obat jenis antipiretik, dan yang paling banyak dikenal adalah parasetamol ataudan ibuprofen. Selain pemberian obat penurun panas tersebut, antipiretik dapat pula dilakukan kompres hangat di area lipatan tubuh, misalnya di leher, ketiak, dan selangkangan untuk membantu menurunkan demampenurunan panas.

Reaksi lain yang sering timbul adalah nyeri/bengkak di lokasi penyuntikan, terutama bila imunisasi dilakukan di intramuskular, seperti pada imunisasi DTwP (difteri, tetanus, pertusis). Reaksi ini dapat timbul dalam beberapa hari pasca penyuntikan., dan Iibu dapat mengurangi rasa tidak nyaman si kecil dengan menggunakan kompres atau dengan memberikanpemberian parasetamol yang juga dapat berfungsi sebagai anti nyeri.  

KIPI akibat reaksi alergi yang dapat mengancam nyawa dan diperantarai reaksi alergi disebut reaksi anafilaksis. Reaksi ini dapat timbul dalam hitungan menit-jam pasca penyuntikan vaksin. Reaksi ini dapat dimulai dengan timbulnya  dan dapat berupa ruam urtikaria (biduran) seluruh tubuh, pembengkakan bibir (angioedema), gejala saluran cerna seperti nyeri perut/mual/muntah/diare, tetapi dapat juga langsung timbul gejala berat seperti sesak napas/mengi, dan syok yang ditandai dengan denyut nadi cepat, lemah, hingga hipotensi. Karena reaksi anafilaksis biasanya terjadi sangat segera, sangat Oleh sebab itu penting untuk tidak segera meninggalkan fasilitas kesehatan setidaknya 30 menit setelah imnunisasi, agar dapat dilakukan

melakukan pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya reaksi tsb.  setidaknya 30 menit pasca vaksinasi, dan usahakan saat pemantauan anak berada di fasilitas kesehatan/ sekitar faskes. Tata laksana anafilaksis harus dilakukan tenaga kesehatan terlatih dan diperlukan penyuntikan epinefrin intramuskular segera. Anak perlu dipantau untuk melihat apakah gejala sudah perbaikan serta kemungkinan terjadinya reaksi alergi ulang.   

 

--

Penulis:

Lucyana Santoso (PrimaKu), Madarina Julia (PrimaKu, ed)

 

Referensi:

  1. https://in.vaccine-safety-training.org/classification-of-aefis.html[2] 
  2. https://immunisationhandbook.health.gov.au/vaccination-procedures/after-vaccination
  3. https://in.vaccine-safety-training.org/rates-of-adverse-vaccine-reactions.html
  4. https://www.who.int/vaccine_safety/initiative/tech_support/Part-3.pdf?ua=1
familyfamily
Baca artikel tumbuh kembang anak di PrimaKu!
Unduh sekarang
playstoreappstore
primaku
Aplikasi tumbuh kembang anak Indonesia. Didukung penuh oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Mitra resmi kami:
kemenkesidaibkkbn
Unduh PrimaKu
playstoreappstore
© 2023 All rights reserved PRIMAKU, Indonesia
Cari kami di: