primaku
Mitra resmi kami:
kemenkesidaibkkbn
Unduh PrimaKu di:
playstoreappstore

Memupuk Kemandirian Batita

Author:

Topik: bayi, Pra-sekolah

Memupuk Kemandirian Batita
 

Kemandirian sebagai salah satu perkembangan personal sosial merupakan keterampilan yang dapat diajarkan kepada anak sejak dini. Sebelum usia tiga tahun, ketika terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, diperlukan kepekaan untuk mengenali kebutuhan anak untuk mandiri dari orangtua dan pengasuh. Ketika anak belajar melakukan kegiatan sehari-hari, mereka belum dapat melakukannya dengan sempurna. Agar anak mampu mandiri, diperlukan kesempatan dan waktu yang cukup untuk berlatih.

Kemandirian pada batita dapat diasah melalui kegiatan rutin sepeti makan, berpakaian, menjaga kebersihan diri, dan partisipasi membereskan mainan atau membantu mengejar mengatur meja. Kemampuan makan sendiri timbul sejak masa bayi diperkenalkan pada makanan padat, dan dapat diasah dengan mengajari bayi memegang biskuit atau finger foods lainnya. Berikan cukup waktu bagi bayi untuk mengenali bentuk, warna, rasa makanan, serta cara memasukkannya ke mulut.

Aktivitas itu sebaiknya dilakukan berulang dalam suasana menyenangkan. Demikian pula ketika mulai memperkenalkan sendok. Biarkan anak berlatih mandiri tapi sediakan bantuan dan dorongan semangat apabila diperlukan. Sebaiknya tidak segera mengambil alih tindakan yang sedang dilakukan anak, kecuali berpotensi berbahaya. Berikut ini contoh kegiatan stimulasi berdasarkan usia.

·         Pada tahun pertama, penting untuk memberi rasa aman dan kasih sayang pada bayi, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan. Ketika bayi menangis, cari dan atasi penyebabnya. Peluk dan belai bayi sesering mungkin sambil mengajaknya bicara, tersenyum, dan mengamati benda di sekitar. Pada usia 3-6 bulan, dapat mulai memperkenalkan mainan untuk digenggam dan diraih. Perkenalkan bayangan dirinya di cermin yang tidak mudah pcah. Bermain cilukba juga dapat dilakukan. Ketika bayi mulai makan makanan padat, tambahkan kegiatan makan sendiri, belajar mengelap wajah dan tangan, minum dari gelas yang tidak mudah pecah, dan menirukan cara memegang sendok atau sikat gigi. Ajari bayi isyarat sosial seperti bertepuk tangan atau melambaikan tangan untuk berpisah.

·         Ketika anak berusia satu tahun, tunjukkan cara melepas pakaian, melepas sepatu dan kaus kaki, atau menarik baju kaus melewati kepala. Tunjukkan pula cara menggunakan sendok dan minum sendiri melalui kegiatan makan bersama. Setelah makan, ajari anak untuk mencuci serta mengeringkan tangannya dan bantu apabila masih diperlukan. Mulai bantu anak untuk belajar menyikat gigi. Memperkenalkan kegiatan sehari-hari juga dapat dilakukan dengan kegiatan merawat boneka seperti cara memberi makan, menggendong, memandikan, dan meninabobokan boneka. Perkenalkan tempat untuk menaruh pakaian kotornya sendiri. Lakukan hal yang sama untuk menaruh sepatu. Bantu anak menentukan pilihan sendiri dengan menawarkan dua atau tiga pilihan. Jangan lupa melatihnya menyatakan keinginan tanpa banyak menangis atau mengamuk.

·         Di usia dua tahun, lanjutkan kegiatan yang telah berhasil dilakukan sendiri oleh anak, dengan tambahan keterampilan yang sedikit lebih rumit. Misalnya belajar memakai baju, makan, mengelap mulut, mencuci tangan, dan mengeringkannya sendiri. Anda dapat mulai melatih toilet training pada usia ini. Perkenalkan satu atau dua aturan rumah yang sederhana, seperti cuci tangan sebelum makan. Ingatkan anak untuk melakukannya sendiri agar hal tersebut menjadi kebiasaan.

Anak-anak senang ketika berhasil, tetapi terkadang mereka masih memerlukan bantuan dan dorongan agar timbul rasa percaya diri dan bahwa orangtua percaya ia mampu mandiri. Tidak jarang pula mereka memerlukan latihan dan pengawasan orang dewasa agar mampu melakukan kegiatan rutin sehari-hari. Pada kegiatan yang lebih rumit, terkadang anak masih memerlukan bantuan menyelesaikannya. Berikut ini beberapa tips mendampingi anak belajar melakukan tugas keseharian sendiri.

·         Ketika memanggil anak untuk melakukan suatu kegiatan rutin, seperti menyikat gigi sebelum tidur, lakukan dalam posisi duduk sehingga sejajar dengan pandangan mata anak. Dapatkan perhatiannya melalui sentuhan, kontak mata, dan menunjuk tempat atau benda yang dituju.

·         Kegiatan rutin yang rumit dapat dibagi menjadi beberapa langkah. Tuntun anak melakukan kegiatan itu sampai selesai dengan cara menyebutkan langkah demi langkah secara jelas dan bernada positif. Mengucapkan kalimat positif seperti, “Sekarang tangan sudah bersih, mari tutup kerannya”. Setelah aliran air berhenti, lanjutkan dengan “setelah itu mari keringkan tangan.” Lebih jelas dan efektif dibandingkan banyak melarang anak, seperti, “Jangan main air.”

·         Untuk anak yang lebih besar, langkah-langkah kegiatan dapat diperjelas dengan membuat foto tiap langkah kemudian menempelkannya di tempat berlangsungnya kegiatan. Sebagai contoh, foto cuci tangan dapat dipasang di atas tempat mencuci tangan.

·         Tunjukkan cara melakukan kegiatan langkah demi langkah, lalu lakukan bersama-sama atau bergantian. Apabila anak melewatkan salah satu langkah, ingatkan dan beri contoh lagi.

·         Untuk kegiatan sulit dan membuat anak malas mengerjakannya, arahkan anak dengan menggunakan kata semacam “pertama-tama” atau “mari” dan “lalu”. Sebagai contoh, “mari, ganti baju, lalu minum susu.”

·         Menawarkan pilihan dalam melakukan kegiatan rutin dapat membuat anak bersemangat. Sebagai contoh, ketika akan memakai baju, tawarkan pilihan baju dengan warna yang berbeda.

·         Ketika anak baru belajar melakukan rutinitas, penting untuk mendorong dan menyemangati anak agar ia berhasil. Bila ia sering dipersalahkan karena tindakannya kurang sempurna, keinginan untuk mencoba dapat berkurang. Bila anak mengalami kesulitan atau sedang tidak ingin melakukan kegiatan rutin, utarakan bahwa Anda memahami perasaannya dan bantu anak untuk melakukan kegiatannya dengan gembira.

·         Berikan dorongan semangat pada anak serta berikan penghargaan ketika satu kegiatan berhasil dilaksanakan.

Sesekali anak “mogok”, tidak melakukan kegiatan rutin yang diharapkan walaupun sudah dibujuk dengan berbagai cara. Dalam hal ini, orangtua dan pengasuh diharapkan tetap tenang dan berusaha mengajak anak melakukan kegiatan tersebut bersama-sama tanpa memarahi anak. Setelah selesai, tunjukkan bahwa hal tersebut dapat dilakukan bersama-sama, semangati anak agar dapat melakukannya sendiri lagi keesokan harinya, dan Anda akan tetap menemani dan membantu bila diperlukan.

            Tiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Apabila anak anda belum dapat melakukan banyak hal yang disebutkan dalam tulisan ini, tidak ada salahnya untuk mengajarkan cara melakukan kegiatan rutin sendiri pada anak. Pahami bahwa latihan kemandirian adalah proses belajar bagi anak dan orangtua yang perlu dilakukan setiap hari agar bermanfaat. Dengan demikian, anak dapat berkembang menjadi pribadi yang mandiri sesuai usianya.

 

Dr. Catharine M Sambo, Sp.A

Ikatan Dokter Anak Indonesia

 

Kompas, Minggu, 20 November 2016

familyfamily
Baca artikel tumbuh kembang anak di PrimaKu!
Unduh sekarang
playstoreappstore
primaku
Aplikasi tumbuh kembang anak Indonesia. Didukung penuh oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Mitra resmi kami:
kemenkesidaibkkbn
Unduh PrimaKu
playstoreappstore
© 2023 All rights reserved PRIMAKU, Indonesia
Cari kami di: