primaku
Mitra resmi kami:
idaikemenkes
Unduh PrimaKu di:
playstoreappstore

Waspada, Ini Risiko yang Terjadi jika Anak Tidak Cocok dengan Susu Sapi!

Author: Dhia Priyanka

Editor: dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A

Topik: Alergi, Alergi Susu Sapi, Susu Sapi, Susu Kedelai

Di usia 1 tahun, anak sudah mulai makan makanan keluarga[1]. Di fase ini, sebagian besar orang tua masih melanjutkan pemberian ASI hingga 2 tahun, namun ada juga yang mulai memperkenalkan susu sapi sebagai asupan nutrisi tambahan. Sayangnya, kejadian alergi susu sapi dilaporkan 5-7,5% pada bayi yang mendapat susu sapi [1]. Penyebab ketidakcocokan ini pun beragam, begitu pula efeknya yang tidak disangka-sangka dapat memengaruhi kondisi kesehatan anak. Hmm, kok bisa, ya? Untuk itu, yuk, kita cari tahu lebih lanjut!

Penyebab Anak Tidak Cocok dengan Susu Sapi

susu sapi_(1).jpg

Susu sapi merupakan bahan pangan alami yang kaya nutrisi. Sebagai sumber yang banyak mengandung nutrisi penting, susu sapi dapat dijadikan sebagai bagian dari pola makan seimbang yang sehat dan telah lama direkomendasikan. Namun, sebagian anak mungkin tidak cocok dengan susu sapi, sehingga tidak dapat mengonsumsinya.  Kenapa sih anak bisa tidak cocok susu sapi? Berikut pemicunya:

  • Intoleransi laktosa: di mana tubuh kekurangan enzim laktase yang dibutuhkan untuk mencerna laktosa, gula dalam susu, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan, termasuk gas, diare, dan kembung, setelah mengonsumsi produk susu. [2] 
  • Preferensi rasa atau tekstur: anak-anak mungkin memiliki ketidaksukaan terhadap rasa atau tekstur susu sapi, sehingga mereka lebih memilih alternatif susu lainnya. [3] 
  • Gangguan saluran cerna: beberapa kondisi saluran pencernaan atau sensitivitas tertentu dapat membuat anak-anak sulit mentoleransi susu sapi, bahkan jika mereka tidak memiliki alergi atau intoleransi laktosa yang terdiagnosis. [4]
  • Alergi susu sapi: Salah satu penyebab paling umum anak tidak cocok susu sapi adalah karena memiliki alergi susu sapi, yang merupakan respons sistem kekebalan tubuh terhadap protein dalam susu sapi, seperti kasein dan whey. Alergi ini dapat menyebabkan berbagai gejala, mulai dari gatal-gatal ringan hingga anafilaksis yang parah. [5,6]

Risiko Kesehatan pada Anak Alergi Susu Sapi

susu sapi_(2).jpg

Kandungan di dalam susu sapi baik untuk tumbuh kembang anak. Anak yang alergi susu sapi, tentu tidak bisa mengonsumsi susu sapi, sehingga akan berdampak pada kesehatannya. Apabila tidak segera ditangani, maka akan berisiko:

  • Kekurangan mikronutrien. Pada susu sapi banyak mikronutrien penting yang dibutuhkan tubuh, seperti  zat besi yang menyebabkan diare, sebagai salah satu gejala umum terjadi pada alergi susu sapi. Makanya, penting bagi anak untuk mengonsumsi zat besi[7]. Sementara kekurang mikronutrien yang lain, seperti vitamin A, seng, folat, vitamin B12, vitamin D, dan yodium dapat menimbulkan peningkatan kerentanan terhadap infeksi, pertumbuhan terhambat, gangguan kognitif, dan penurunan kinerja sekolah[8].
  • Gangguan saluran cerna. Anak perlu menyehatkan saluran cernanya dengan memperkuat mikrobiota di saluran cerna melalui asupan serat. Serat sebagai substrat/makanan bakteri baik dan menurunkan bakteri patogen. Serat memberikan sumber energi bagi mikrobiota usus, sebuah ekosistem yang terdiri dari miliaran organisme yang menghuni usus kita. Fermentasi serat oleh mikrobiota usus menghasilkan berbagai senyawa dengan manfaat kesehatan jangka pendek dan jangka panjang yang melampaui usus, mencakup sistem kekebalan tubuh dan organ seperti hati, ginjal, dan bahkan otak. Manfaat jangka pendek termasuk mendukung sistem kekebalan tubuh, terutama di dalam usus itu sendiri, mencegah atau memperbaiki penyakit autoimun seperti diabetes, arthritis inflamasi, gangguan gastrointestinal inflamasi, dan penyakit alergi [9,10].

Solusi Anak yang Tidak Cocok Susu Sapi

susu sapi_(3).jpg

Prinsip utama dalam mengatasi anak alergi susu sapi adalah menghindari segala bentuk produk susu sapi tetapi harus memberikan nutrisi yang seimbang dan sesuai untuk tumbuh kembang bayi/anak. Nah, gimana sih solusinya? Sesuai tata laksana IDAI, soya bisa menjadi alternatif anak alergi susu sapi ringan sedang. Formula kedelai yang beredar saat ini terbuat dari isolat protein kedelai dan memiliki kandungan protein 2,2 sampai 2,6 g/100 kkal, lebih tinggi dari formula berbasis susu sapi. Walaupun demikian, bayi yang mengonsumsi formula kedelai menunjukkan pertumbuhan yang setara dengan bayi yang mengonsumsi formula berbasis susu sapi [11,12]. 

Jadi, apabila si Kecil tidak cocok dengan susu sapi, segera tangani dengan berikan susu alternatif, salah satunya susu kedelai yang terbuat dari isolat protein guna memenuhi kebutuhan nutrisinya. Selain itu, pastikan kebutuhan nutrisi anak terpenuhi dari makanan utamanya serta cukup istirahat agar tumbuh kembangnya optimal.

Referensi:

  1. UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI. 2018. Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI)
  2. Talia F. Malik; Kiran K. Panuganti. Lactose Intolerance. National Library of Medicine. 2000;(2 Suppl):165S-175S 
  3. Alina Surmacka Szczesniak. Food Quality and Preference. Science Direct. 2002;13:215-225 
  4. Al-Beltagi M, Saeed NK, Bediwy AS, Elbeltagi R. Cow’s milk-induced gastrointestinal disorders. World Journal of Clinical Pediatrics. Nov 9, 2022; 11(6): 437-454. 
  5. Caffarelli C, Baldi F, Bendandi B, Calzone L, Marani M, Pasquinelli P., EWGPAG. Cow's milk protein allergy in children: a practical guide. Pubmed. 2010 Jan 15;36:5.
  6. Kansu A, Yüce A, Dalgıç B, Şekerel BE, Çullu-Çokuğraş F, Çokuğraş H. Consensus statement on diagnosis, treatment and follow-up of cow's milk protein allergy among infants and children in Turkey. Pubmed. 2016;58(1):1-11.
  7. Dr C Gasche. Iron, anaemia, and inflammatory bowel diseases. National Library of Medicine. 2004 Aug; 53(8): 1190–1197.
  8. Gretchen A Stevens, DSc, Ty Beal, PhD, Mduduzi N N Mbuya, PhD, Hanqi Luo, PhD, Lynnette M Neufeld, PhD. Micronutrient deficiencies among preschool-aged children and women of reproductive age worldwide: a pooled analysis of individual-level data from population-representative surveys. The Lancet Global Health. 2022;10:1590-1599 
  9. Dayib M, Larson J, Slavin J. Dietary fibers reduce obesity-related disorders: mechanisms of action. Curr Opin Clin Nutr Metab Care 2020;23:445–50.
  10. Korczak R, Kamil A, Fleige L. Dietary fiber and digestive health in children. Nat Rev 2020;75:241–59.
  11. J Pediatr Gastroenterol Nutr. Soy protein infant formulae and follow-on formulae: a commentary by the ESPGHAN Committee on Nutrition. Pubmed. 2006 Apr;42(4):352-61
  12. House E, Esiri M, Forster G, Ince PG, Exley C. Aluminum, iron and copper in human brain tissues donated to the medical research council’s cognitive function and ageing study. Pubmed. 2012;4:56–65.

familyfamily
Baca artikel tumbuh kembang anak di PrimaKu!
Unduh sekarang
playstoreappstore
Rekomendasi Artikel
Lihat semua
cover
Lebih Waspada, Ini Jenis Pelecehan pada Anak yang Orang Tua ...
28 Jun 2022
cover
Waspada, 5 Hal Ini Bisa Sebabkan Anak Sembelit
21 Jul 2022
cover
Waspada, Anak dan Remaja Rentan Terkena Diabetes
30 Sep 2022
cover
Waspada, di Usia Ini Anak Lihai Berbohong, Simak Tips Mengat...
12 Nov 2022
cover
Waspada, di Usia Ini Anak Biasanya Menolak Makan!
30 Des 2022
cover
Waspada, Ini Jenis Kanker yang Kerap Menyerang Anak-Anak!
15 Feb 2023
cover
Waspada, Anak Usia Ini Rentan Alami Gizi Kurang & Gizi Buruk
23 Apr 2024
primaku
Aplikasi tumbuh kembang anak Indonesia. Didukung penuh oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Mitra resmi kami:
idaikemenkes
Unduh PrimaKu
playstoreappstore
© 2023 All rights reserved PRIMAKU, Indonesia
Cari kami di: