Meta Pixel

27 Agustus 2026

Tanda Dehidrasi pada Bayi akibat Diare yang Tidak Boleh Diabaikan

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Diare, Dehidrasi, Vaksinasi, Rotavirus, Imunisasi Rotavirus

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.

Tanda dehidrasi pada bayi akibat diare perlu dikenali sedini mungkin karena kondisi bayi dapat memburuk lebih cepat dibandingkan anak yang lebih besar. WHO memperkirakan hampir 1,7 miliar kasus diare pada anak terjadi setiap tahun dan diare masih menyebabkan sekitar 443.832 kematian balita per tahun. 

Dehidrasi terjadi ketika cairan dan elektrolit yang keluar melalui tinja cair, sering kali disertai muntah atau demam, lebih banyak daripada yang masuk. Bayi memiliki cadangan cairan lebih kecil dan kebutuhan cairan per kilogram berat badan lebih tinggi, sehingga kehilangan cairan sedikit saja dapat lebih bermakna.

Penilaian dehidrasi tidak boleh bergantung pada satu tanda. Ubun-ubun cekung, tidak keluar air mata, atau jumlah popok basah dapat membantu, tetapi harus dilihat bersama kondisi umum, kemampuan minum, mata, mulut, sirkulasi, dan pola buang air kecil.


Tanda Dehidrasi pada Bayi yang Perlu Dikenali

Tanda Awal hingga Dehidrasi Ringan–Sedang

  1. Lebih rewel atau gelisah daripada biasanya.
  2. Tampak haus dan minum dengan lahap.
  3. Mulut atau lidah terasa lebih kering; air mata berkurang saat menangis.
  4. Mata tampak lebih cekung dan popok basah lebih jarang dari biasanya.
  5. Kulit kembali lebih lambat setelah dicubit lembut oleh tenaga kesehatan.

Tanda Dehidrasi Berat atau Kegawatdaruratan

  1. Sangat lemas, mengantuk tidak wajar, sulit dibangunkan, atau kesadaran menurun.
  2. Tidak mampu minum, menolak semua cairan, atau muntah setiap kali minum.
  3. Buang air kecil sangat sedikit atau tidak ada; tangan dan kaki terasa dingin atau tampak pucat/bercak.
  4. Napas cepat atau dalam, nadi cepat dan lemah, serta kondisi umum terus memburuk.
  5. Mata sangat cekung dan lipatan kulit kembali sangat lambat.

CATATAN PENTING

Tekanan darah rendah merupakan tanda yang terlambat. Pada popok, urine juga dapat sulit dibedakan dari tinja sangat cair. Bila insting MomDad mengatakan bayi tampak jauh lebih sakit, cari pertolongan medis tanpa menunggu hitungan popok yang pasti.


Tabel Tingkat Dehidrasi pada Bayi

Tingkat

Petunjuk yang Dapat Terlihat

Tindakan

Belum tampak dehidrasi

Bayi masih aktif, minum baik, dan buang air kecil mendekati biasanya.

Cegah kehilangan cairan: teruskan ASI/makan, beri oralit sesuai anjuran, dan pantau ketat.

Sebagian/ringan–sedang

Sedikitnya dua tanda seperti rewel, mata cekung, sangat haus/minum lahap, atau mulut kering.

Hubungi dokter/tenaga kesehatan; lakukan rehidrasi oral dan evaluasi ulang.

Berat

Sedikitnya dua tanda seperti lemas/kesadaran turun, mata sangat cekung, tidak mampu minum/minum buruk, atau cubitan kulit kembali sangat lambat.

Ke IGD segera. Bayi mungkin memerlukan cairan melalui infus dan pemantauan.

Klasifikasi di atas merangkum pedoman WHO. Diagnosis dan derajat dehidrasi tetap harus ditentukan tenaga kesehatan.


Pertolongan Pertama saat Bayi Diare

1. Teruskan ASI dan Asupan

Tetap susui sesering yang bayi mau. Pada bayi yang sudah MPASI, lanjutkan makanan yang sesuai usia dalam porsi kecil dan lebih sering. Menghentikan makan dapat memperburuk status gizi dan pemulihan.

2. Berikan Oralit Sedikit tetapi Sering

Gunakan oralit kemasan dan larutkan tepat sesuai petunjuk. Berikan sedikit-sedikit dengan sendok atau spuit oral. Bila bayi muntah, jeda singkat lalu coba kembali lebih perlahan. Oralit mengganti air sekaligus elektrolit; air putih saja bukan pengganti yang setara. Jangan membuat larutan sendiri karena kesalahan takaran dapat berbahaya.

3. Konsultasikan Pemberian Zinc

WHO dan IDAI merekomendasikan zinc selama 10–14 hari pada diare anak, tetapi dosis bayi perlu disesuaikan usia dan arahan dokter. Jangan memberikan obat antidiare, antibiotik, atau obat lain tanpa rekomendasi tenaga kesehatan.


Yang Tidak Boleh Dilakukan

  • Jangan mengganti oralit dengan minuman manis, soda, teh, jus pekat, atau minuman olahraga.
  • Jangan menghentikan ASI atau mengencerkan susu formula tanpa instruksi dokter.
  • Jangan memberi obat penghenti diare atau antibiotik secara mandiri.
  • Jangan memaksa cairan banyak sekaligus pada bayi yang muntah; berikan sedikit dan sering.
  • Jangan menunda pemeriksaan hanya karena demam turun atau diare baru berlangsung singkat.


Kapan Bayi Diare Harus Dibawa ke Dokter atau IGD?

Segera ke IGD bila bayi menunjukkan tanda dehidrasi berat, sulit dibangunkan, kejang, tidak mampu minum, muntah terus, atau tangan-kaki dingin. Pemeriksaan segera juga diperlukan bila terdapat darah pada tinja, muntah hijau, perut membuncit/nyeri hebat, napas tidak normal, atau bayi tampak semakin sakit.

Bayi berusia di bawah 3 bulan, bayi prematur, atau bayi dengan penyakit kronis memiliki ambang pemeriksaan yang lebih rendah. Demam pada bayi kecil perlu dinilai tenaga kesehatan. Jika ragu, konsultasikan lebih awal—jangan menunggu dehidrasi menjadi berat.


Cara Mencegah Diare dan Dehidrasi pada Bayi

  • Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan bila memungkinkan dan lanjutkan ASI bersama MPASI.
  • Cuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan makanan, setelah mengganti popok, dan sebelum menyentuh bayi.
  • Gunakan air bersih serta peralatan makan yang higienis; simpan MPASI dengan aman.
  • Lengkapi imunisasi sesuai jadwal nasional, termasuk vaksin rotavirus sesuai usia dan penilaian tenaga kesehatan.

Peran Vaksin Rotavirus

Rotavirus merupakan penyebab penting diare berat pada bayi dan anak. Vaksin rotavirus membantu mencegah penyakit berat dan rawat inap, tetapi tidak mengobati diare yang sedang berlangsung. Karena vaksin memiliki batas usia pemberian, cek status imunisasi sedini mungkin. Jadwal dapat mengikuti program nasional terbaru dan pertimbangan dokter.

Banner-04 (2).png


FAQ tentang Tanda Dehidrasi pada Bayi

Q: Berapa lama bayi boleh diare sebelum dibawa ke dokter?

A: Jangan memakai durasi sebagai satu-satunya patokan. Bayi perlu dinilai lebih cepat bila masih sangat kecil, minum berkurang, popok makin jarang basah, muntah berulang, demam, tinja berdarah, atau tampak lemas.


Q: Apakah ubun-ubun cekung selalu berarti dehidrasi?

A: Tidak selalu. Ubun-ubun perlu dinilai bersama tanda lain dan dapat dipengaruhi posisi atau kondisi bayi. Tenaga kesehatan menggunakan gabungan temuan klinis.


Q: Bolehkah bayi diare hanya diberi air putih?

A: Tidak sebagai pengganti cairan yang hilang. Oralit memiliki komposisi glukosa dan elektrolit untuk membantu penyerapan. Teruskan ASI dan ikuti arahan dokter mengenai jumlah serta cara pemberian oralit.


Q: Bagaimana jika bayi muntah setelah minum oralit?

A: Tunggu sebentar, lalu berikan kembali dalam jumlah lebih kecil dan lebih sering. Jika bayi selalu muntah, tidak mampu minum, atau makin lemas, segera cari pertolongan medis.


Q: Apakah vaksin rotavirus mencegah semua diare?

A: Tidak. Vaksin terutama melindungi dari rotavirus dan mengurangi risiko penyakit berat, sedangkan diare dapat disebabkan virus, bakteri, atau parasit lain. Kebersihan dan pemberian makan yang aman tetap penting.


Tanda dehidrasi pada bayi akibat diare dapat berkembang dalam waktu singkat. Kunci keselamatan adalah mengenali perubahan perilaku dan kemampuan minum, memantau buang air kecil, memberikan ASI serta oralit secara tepat, dan mencari bantuan sebelum bayi menjadi sangat lemas. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis maupun terapi dokter.


Referensi:

  1. World Health Organization. Diarrhoeal disease. WHO; 2024.
  2. World Health Organization & UNICEF. Clinical management of acute diarrhoea. WHO; 2004. 
  3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Bagaimana Menangani Diare pada Anak. IDAI; 2014. 
  4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Bagaimana Memberi Makan Anak Saat Sedang Diare. IDAI; 2015. 
  5. Centers for Disease Control and Prevention. Managing Acute Gastroenteritis Among Children: Oral Rehydration, Maintenance, and Nutritional Therapy. CDC; 2003.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Seputar Imunisasi. Kemenkes RI; diakses 2026. 
  7. Centers for Disease Control and Prevention. Rotavirus Vaccine Recommendations. CDC; 2024.