
Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
15 Jul 2026
Topik: Refleks Primitive, Primitive Reflex, Stepping Reflex
Definisi dan Karakteristik
Stepping Reflex merupakan salah satu reflex primitif yang dapat dijumpai pada bayi baru lahir sebagai bagian dari rangkaian refleks neonatal yang mencerminkan integritas susunan saraf pusat pada periode awal kehidupan. (1) refleks initermasuk dalam kelompok refleks primitif bersama refleks rooting, sucking, Moro, palmar dan plantar grasp, Babinski, Landau, glabella, asymmetric tonic neck, dan parachute reflex, yang seluruhnya dievaluasi secara rutin dalam pemeriksaan neurologis neonatus. (1) Stepping reflex dirangsang dengan cara memegang bayi dalam posisi tegak sedemikian rupa sehingga kedua telapak kaki menyentuh permukaan datar; respons normal yang muncul adalah gerakan mengangkat kedua kaki secara bergantian menyerupai gerakan melangkah atau berjalan. (1)
Fungsi Klinis
Secara fungsional, refleks primitif termasuk stepping reflex berperan sebagai penanda kematangan neurologis pada masa neonatal, karena kemunculan dan pola respons yang simetris mencerminkan integrasi batang otak dan jalur motorik sesuai usia gestasi. Pemeriksaan refleks ini menjadi bagian dari evaluasi fisik lengkap yang dilakukan dokter untuk memastikan perkembangan sistem saraf pusat berjalan sesuai tahapannya, mengingat refleks primitif secara umum muncul dan menghilang pada rentang waktu yang telah diketahui. (1) Tak hanya itu, refleks-refleks awal yang bersifat otomatis ini diyakini menjadi fondasi bagi perkembangan perilaku motorik volunter selanjutnya, karena pematangan sistem saraf dan pengalaman sensorimotor pada masa bayi saling berinteraksi secara bertahap dalam membentuk kemampuan gerak yang lebih kompleks. (2)
Perkembangan: Onset dan Involusi
Stepping reflex ditemukan pada enam minggu pertama kehidupan dan secara fisiologis menghilang pada usia sekitar dua bulan. Pola kemunculan dan penghilangan yang terjadwal ini konsisten dengan refleks primitif lain, misalnya refleks rooting dan sucking yang muncul sejak lahir dan menghilang pada usia empat bulan, atau reflex Moro yang dapat dijumpai sejak usia gestasi 25 minggu dan menghilang pada usia empat bulan. (1) Perkembangan motorik pada masa bayi berikutnya, termasuk kemampuan berjalan mandiri, tidak semata-mata merupakan kelanjutan linear dari stepping reflex neonatal, melainkan hasil interaksi berkelanjutan antara kematangan sistem saraf, pengalaman gerak, dan umpan balik yang terakumulasi seiring berjlannya waktu. (2)
Etiologi Ketidakmunculan Reflex
Seperti refleks primitif lainnya, ketidakhadiran stepping reflex pada periode yang seharusnya dapat mengindikasikan gangguan pada susunan saraf pusat. Absennya refleks primitif secara umum, seperti reflex rooting dan sucking, dapat menandakan kondisi prematuritas atau depresi susunan saraf pusat, sementara ketiadaan respons pada reflex grasp dapat mengindikasikan adanya cedera saraf. (1) Prinsip yang sama relevan diterapkan pada interpretasi dari evaluasi stepping reflex, sehingga ketiadaan respons melangkah pada bayi cukup bulan sebaiknya menjadi perhatian klinis dan dipertimbangkan sebagai bagian dari red flag perkembangan yang memerlukan asesmen neurologis lebih lanjut, khususnya bila disertai kelainan pemeriksaan neurologis lain, riwayat prematuritas, atau faktor risiko biologis lainnya. (1)
Makna Persistensi Refleks
Persistensi refleks primitif melampaui usia yang diharapkan secara umum dianggap sebagai indikator adanya gangguan pada jalur motorik sentral, sebagaimana dicontohkan pada reflex Babinski yang bila menetap setelah usia dua tahun mengarah pada kecurigaan penyakit upper motor neuron. (1) Dengan prinsip serupa, refleks primitif yang seharusnya terintegrasi dan menghilang pada rentang usia tertentu, namun tetap persisten, perlu diwaspadai sebagai tanda keterlambatan maturasi sistem saraf pusat atau adanya kelainan neurologis yang mendasari, sehingga bayi dengan temuan tersebut perlu dirujuk untuk evaluasi perkembangan formal. (1)
Kesimpulan dan Penutup
Stepping reflex merupakan salah satu refleks primitif yang muncul pada enam minggu pertama kehidupan dan secara fisiologis menghilang pada usia dua bulan, berfungsi sebagai salah satu penanda kematangan neurologis neonatus. (1) Pemahaman mengenai pola kemunculan, integrasi, serta implikasi klinis dari ketidakhadiran maupun persistensi refleks primitif ini penting bagi dokter anak dalam mendukung deteksi dini gangguan perkembangan, mengingat surveilans perkembangan yang cermat dan berkesinambungan tetap menjadi metode paling andal dalam mengidentifikasi risiko keterlambatan sejak periode neonatal. (1) Integrasi pemeriksaan refleks primitif ke dalam praktik klinis rutin, disertai pemahaman bahwa perkembangan motorik selanjutnya dibentuk oleh interaksi berkelanjutan antara maturasi saraf dan pengalaman sensorimotor, akan memperkuat kualitas pemantauan tumbuh kembang anak secara menyeluruh. (2)
Referensi